kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.110   13,00   0,07%
  • IDX 5.435   -4,71   -0,09%
  • KOMPAS100 703   0,33   0,05%
  • LQ45 546   -0,78   -0,14%
  • ISSI 187   0,14   0,07%
  • IDX30 305   -1,02   -0,33%
  • IDXHIDIV20 402   -1,27   -0,31%
  • IDX80 81   0,04   0,05%
  • IDXV30 112   -0,05   -0,04%
  • IDXQ30 101   -0,41   -0,40%

Bursa Australia Melemah Senin (26/10), Saham Bank Besar Berguguran


Senin, 26 Oktober 2026 / 08:34 WIB
Bursa Australia Melemah Senin (26/10), Saham Bank Besar Berguguran
ILUSTRASI. Bursa Australia - ASX (REUTERS/Hollie Adams)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), tertekan penurunan saham sektor keuangan yang mengimbangi penguatan saham pertambangan di tengah kenaikan harga komoditas.

Investor juga mencermati data inflasi kuartal III-2026 yang akan dirilis pekan ini untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral Australia.

Melansir Reuters, Indeks S&P/ASX 200 turun 0,5% ke level 8.753,10 pada pukul 00.37 GMT. Penurunan ini membawa indeks menuju pelemahan harian terdalam sejak 14 Oktober. Pada pekan lalu, indeks acuan tersebut juga ditutup sedikit lebih rendah.

Baca Juga: Lula Menang Pilpres Brasil, Hadapi Kongres Konservatif dan Utang di Atas 82% PDB

Pelaku pasar menanti data inflasi konsumen kuartal III-2026 yang dijadwalkan rilis pada Rabu (28/10/2026).

Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi Reserve Bank of Australia (RBA) dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Pasar memperkirakan peluang lebih dari 60% bahwa RBA akan kembali menaikkan suku bunga sebanyak satu kali lagi pada tahun ini.

Jika terealisasi, kenaikan tersebut berpotensi membawa suku bunga acuan menjadi 4,85% dalam pertemuan RBA pada 3 November mendatang.

Tekanan terbesar datang dari sektor keuangan yang merosot 1,6%, sekaligus menuju penurunan terdalam sejak 1 Oktober. Keempat bank besar Australia kompak melemah, dengan penurunan saham berkisar 1,6% hingga 1,9%.

Saham teknologi juga terkoreksi hingga 2,5% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan.

Baca Juga: Trump Sebut Sengketa Tarif AS-Kanada Segera Selesai, Belum Ada Rincian

Pelemahan ini mengikuti tekanan saham teknologi di Wall Street pada akhir pekan lalu. Saham WiseTech Global turun 1,3%, sedangkan Xero melemah 1,9%.

Di tengah tekanan tersebut, saham pertambangan menguat 1,4% dan berpotensi mengakhiri tren penurunan selama empat sesi berturut-turut.

Penguatan ini mengikuti kenaikan harga bijih besi dan tembaga. Saham BHP dan Fortescue masing-masing naik lebih dari 1,3%.

Saham perusahaan tambang emas turut menguat hingga 2,1%, sejalan dengan kenaikan harga emas. Evolution Mining, Northern Star Resources, dan Ramelius Resources masing-masing melonjak antara 1,1% hingga 2,6%.

Sektor energi juga mencatatkan kenaikan 1,4% di tengah tingginya harga minyak, meskipun harga komoditas tersebut sedikit terkoreksi pada Senin. Saham Santos naik 1,4%, sementara Woodside Energy menguat 1,1%.

Baca Juga: Trump Kaitkan Kandidat Senator Muslim dengan Serangan 9/11, Pilpres AS Memanas

Sementara itu, saham operator pusat data NEXTDC menjadi salah satu pemberat indeks dengan penurunan lebih dari 3%.

Perusahaan tersebut menyatakan bahwa CEO-nya akan melepaskan kesempatan memperoleh bonus untuk tahun fiskal 2027, menyusul pemangkasan proyeksi kinerja perusahaan pada pekan lalu.

Adapun pasar saham Selandia Baru tidak beroperasi pada Senin karena libur nasional.




TERBARU

[X]
×