kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.095   -2,00   -0,01%
  • IDX 5.421   -17,92   -0,33%
  • KOMPAS100 700   -2,83   -0,40%
  • LQ45 544   -3,06   -0,56%
  • ISSI 186   -0,45   -0,24%
  • IDX30 304   -2,04   -0,66%
  • IDXHIDIV20 401   -2,71   -0,67%
  • IDX80 81   -0,33   -0,41%
  • IDXV30 112   -0,46   -0,41%
  • IDXQ30 101   -0,78   -0,77%

Lula Menang Pilpres Brasil, Hadapi Kongres Konservatif dan Utang di Atas 82% PDB


Senin, 26 Oktober 2026 / 08:19 WIB
Lula Menang Pilpres Brasil, Hadapi Kongres Konservatif dan Utang di Atas 82% PDB
ILUSTRASI. Pemilu Brasil - Presiden Terpilih Luiz Inacio Lula da Silva (REUTERS/Amanda Perobelli)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Luiz Inacio Lula da Silva kembali terpilih sebagai Presiden Brasil untuk masa jabatan keempat.

Kemenangan pada Minggu (25/10/2026) ini menjadi momentum kebangkitan politik Lula, sekaligus menahan laju kemenangan kandidat sayap kanan di sejumlah negara Amerika Latin.

Melansir Reuters, Lula mengalahkan Senator Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro.

Baca Juga: Trump Sebut Sengketa Tarif AS-Kanada Segera Selesai, Belum Ada Rincian

Flavio sebelumnya meraih suara terbanyak pada putaran pertama dan berupaya melanjutkan pengaruh gerakan politik sayap kanan yang dibangun ayahnya.

Kemenangan Lula terbilang mengejutkan karena popularitasnya sempat tertekan oleh skandal korupsi yang melibatkan partainya serta kenaikan harga barang.

Perubahan struktur ekonomi dan bertambahnya pekerja informal yang bergantung pada platform digital juga menjadi tantangan bagi pemimpin berusia 80 tahun tersebut.

Lula sebelumnya pernah dipenjara pada 2018 hingga 2019 atas kasus korupsi. Namun, putusan yang menjeratnya kemudian dibatalkan, membuka jalan baginya untuk kembali bersaing dan mengalahkan Jair Bolsonaro dalam pemilihan presiden 2022.

Anggota parlemen Brasil dari kelompok kiri, Erika Hilton, menyebut Lula sebagai negarawan besar ketika berbicara kepada Reuters saat mengikuti penghitungan suara di Sao Paulo.

Baca Juga: Trump Kaitkan Kandidat Senator Muslim dengan Serangan 9/11, Pilpres AS Memanas

Andalkan program sosial dan reformasi tenaga kerja

Dalam kampanye, Lula menonjolkan rekam jejak pemerintahannya dalam menekan kemiskinan dan ketimpangan.

Pada masa jabatan ketiganya, tingkat pengangguran, buta huruf, dan deforestasi dilaporkan mencapai level terendah dalam catatan yang dirujuk kampanyenya.

Lula juga memperingatkan bahwa jika Flavio Bolsonaro menang, belanja kesejahteraan sosial berisiko dipangkas dan sejumlah kemajuan sosial dapat terancam.

Ia turut menyoroti potensi berkurangnya kedaulatan Brasil di tengah pengaruh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Baca Juga: Lula Salip Flavio Bolsonaro dalam Pilpres Brasil, Penghitungan Suara Capai 50%

Menurut Leonardo Barreto, salah satu pendiri konsultan Think Policy, pemilih memilih jalur yang sudah mereka kenal dibandingkan perubahan yang dinilai membawa ketidakpastian.

“Orang-orang saat ini memilih antara perubahan yang disertai kekhawatiran dan jalur yang sudah dikenal, yang menjamin hak-hak tertentu,” kata Barreto kepada Reuters.

Untuk memperkuat dukungan, Lula mengusung sejumlah kebijakan yang menyasar pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Agenda tersebut mencakup usulan transportasi umum gratis secara nasional pada akhir pekan, yang masih membutuhkan pembahasan formal di Kongres, serta kenaikan 15% bantuan sosial andalannya yang sudah mulai diterapkan.

Lula juga mendorong amendemen konstitusi yang menjadi salah satu reformasi ketenagakerjaan terbesar Brasil dalam beberapa dekade terakhir. Kebijakan tersebut telah disetujui dengan dukungan luas di Kongres.

Kemenangan Lula juga berpotensi memengaruhi keseimbangan politik Amerika Latin.

Celso Amorim, mantan menteri luar negeri Brasil yang pernah bekerja bersama Lula, menilai presiden terpilih tersebut dapat berperan sebagai penyeimbang di kawasan di tengah menguatnya pemerintahan sayap kanan yang memiliki kedekatan dengan Washington.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Brent Masih di Atas US$ 115 per Barel

Kongres konservatif menjadi tantangan

Meski kembali menang, masa jabatan keempat Lula diperkirakan menghadapi tantangan politik yang besar.

Brasil kini memiliki Kongres paling konservatif sejak negara itu kembali ke pemerintahan demokratis pada 1980-an.

Partai Liberal yang dipimpin Bolsonaro bersama partai-partai sekutunya diperkirakan dapat menguasai lebih dari 280 kursi di majelis rendah dan hingga 50 kursi di Senat.

Komposisi tersebut berpotensi menyulitkan pemerintah dalam mengesahkan kebijakan dan mempertahankan dukungan parlemen.

Oliver Stuenkel, profesor hubungan internasional di Getulio Vargas Foundation, menilai posisi politik Lula dapat melemah sejak awal masa jabatan berikutnya.

Menurut dia, pengaruh Kongres yang semakin besar dapat membatasi ruang gerak presiden, termasuk dalam penentuan hakim Mahkamah Agung dan pembentukan koalisi politik.

Lula juga menghadapi kemungkinan meningkatnya tekanan politik, termasuk ancaman pemakzulan, menurut analisis Stuenkel kepada Reuters.

Baca Juga: Makin Banyak Orang Kaya Dunia Pindahkan Emas Ke Negeri Tetangga, Ini Data & Alasannya

Pertumbuhan ekonomi dan utang jadi sorotan

Di sektor ekonomi, pemerintah Brasil memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,3% pada tahun depan.

Prospek tersebut menambah tantangan bagi Lula di tengah tingginya suku bunga dan utang publik yang telah melampaui 82% dari produk domestik bruto (PDB), level tertinggi sejak pandemi.

Para pengkritik Lula menilai belanja pemerintah menjadi salah satu penyebab kenaikan utang. Namun, sebagian besar peningkatan beban utang disebut berasal dari biaya bunga.

Goldman Sachs memperkirakan, Lula hanya akan membuat kemajuan terbatas dalam pengendalian belanja pada masa jabatan keempatnya.

Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mempertahankan model pertumbuhan yang menempatkan peran negara sebagai salah satu penggerak utama ekonomi.

Baca Juga: Kimi Antonelli Menang di GP AS, Gelar Juara Dunia F1 Tinggal Butuh 2 Poin

Selain utang pemerintah, kenaikan utang rumah tangga juga menjadi perhatian ekonom. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Lula meluncurkan larangan sementara terhadap perjudian daring dan memperkenalkan program keringanan utang selama masa kampanye.

Di sisi lain, Kongres yang lebih konservatif diperkirakan mendorong reformasi struktural yang lebih berorientasi pada dunia usaha.

Namun, sejumlah perubahan tersebut berpotensi disertai pemangkasan belanja pemerintah yang dapat memicu gejolak sosial.

Dengan demikian, kemenangan Lula bukan hanya menandai kembalinya ia ke pucuk pemerintahan Brasil, tetapi juga membuka babak baru yang diwarnai tantangan fiskal, pertumbuhan ekonomi, dan tarik-menarik kepentingan dengan Kongres.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×