kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Makin Banyak Orang Kaya Dunia Pindahkan Emas Ke Negeri Tetangga, Ini Data & Alasannya


Senin, 26 Oktober 2026 / 06:03 WIB
Makin Banyak Orang Kaya Dunia Pindahkan Emas Ke Negeri Tetangga, Ini Data & Alasannya
ILUSTRASI. Makin Banyak Orang Kaya Dunia Pindahkan Emas Ke Negeri Tetangga, Ini Data & Alasannya


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Singapura. Orang kaya di berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menyimpan emas fisik ke negeri tetangga, Singapura. Tren ini sudah berlangsung sejak 11 tahun terakhir.

Singapura semakin menarik perhatian investor kaya dari Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Timur Tengah sebagai lokasi penyimpanan emas fisik. Kekhawatiran terhadap konflik geopolitik, utang pemerintah, serta ketidakpastian politik mendorong para pemilik kekayaan mencari alternatif penyimpanan aset di luar negara asal.

Tren ini turut membuka peluang bisnis bagi perusahaan penyimpanan logam mulia, pedagang emas batangan, hingga perbankan yang menyediakan layanan perdagangan dan penitipan emas.

Mengutip Bloomberg, Minggu (25/10/2026), perusahaan perdagangan emas batangan J. Rotbart & Co. memperkirakan, jumlah emas milik pribadi yang disimpan di Singapura telah melampaui 800 ton pada 2025.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 16 kali lipat dibandingkan dengan posisi pada 2014. Sebagian besar emas yang tersimpan berasal dari Eropa, dan volumenya diperkirakan masih bertambah pada 2026 dan 2027.

Salah satu pendiri Farro Capital, Manish Tibrewal, mengatakan bahwa tren pembelian emas fisik juga mulai menarik keluarga kaya yang sebelumnya belum pernah berinvestasi pada logam mulia tersebut.

Mereka membeli emas melalui bank swasta maupun pedagang emas batangan, kemudian menyimpannya di Singapura.

Baca Juga: Ekspor Gas Indonesia Dipangkas, Singapura Siapkan Pasokan LNG dan Energi Nuklir

Permintaan Emas Batangan dan Koin Meningkat

Minat investor terhadap emas fisik juga terlihat dari meningkatnya permintaan emas batangan dan koin di sejumlah negara.

Berdasarkan data World Gold Council (WGC), China menjadi pasar terbesar untuk produk investasi emas pada 2025 dengan permintaan mencapai 431,7 ton, naik 28% secara tahunan atau year on year (YoY).

India menempati posisi berikutnya dengan permintaan 280,4 ton, disusul Amerika Serikat sebesar 58 ton dan Swiss sebanyak 25 ton.

Sementara itu, permintaan emas batangan dan koin di Singapura mencapai 9,6 ton. Meski volumenya lebih kecil dibandingkan dengan pasar utama tersebut, permintaannya tumbuh 48% secara tahunan.

Pertumbuhan ini memperlihatkan meningkatnya minat terhadap emas fisik di Singapura. Di sisi lain, masuknya emas milik investor asing juga mendorong kebutuhan terhadap fasilitas penyimpanan yang aman dan mampu menampung logam mulia dalam jumlah besar.

Baca Juga: IPhone Lipat Apple Mulai Dijual, Harga US$2.000 dan Stok Terbatas

Bisnis Penyimpanan Emas Singapura Berkembang

Salah satu pelaku usaha yang menangkap peluang tersebut adalah Gregor Gregersen, pengusaha kelahiran Jerman yang mengembangkan bisnis penyimpanan logam mulia di Singapura.

Bisnis Gregersen bermula dari skala kecil dengan menyimpan perak dalam jumlah terbatas dan melakukan transaksi untuk menguji permintaan pasar. Hampir 17 tahun kemudian, usahanya berkembang menjadi fasilitas penyimpanan enam lantai bernama The Reserve.

Fasilitas tersebut memiliki luas sekitar 180.000 kaki persegi atau setara dengan 16.722 meter persegi.

Menurut laporan Bloomberg, kapasitas The Reserve dirancang untuk menampung sekitar 10% dari produksi emas dunia setiap tahun dan 30% dari produksi perak tahunan.

Jumlah emas yang dititipkan di fasilitas tersebut meningkat tiga kali lipat sejak awal 2020. Pada September 2026, total emas yang tersimpan mencapai 8,6 ton, dengan sekitar 90% dimiliki investor asing.

Tingginya porsi kepemilikan asing menunjukkan bahwa permintaan penyimpanan emas di Singapura tidak hanya berasal dari investor domestik, tetapi juga dari pemilik kekayaan internasional yang mencari alternatif lokasi penyimpanan aset.

Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Penghentian Kekerasan di Yaman Usai Operasi Kanker Paru-Paru

Bank Ikut Membidik Bisnis Emas

Peluang bisnis penyimpanan logam mulia juga menarik perhatian sektor perbankan.

Sejumlah bank, termasuk Nomura Holdings Inc. dan Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC), memperluas layanan perdagangan dan penyimpanan emas di Singapura untuk menjangkau investor yang ingin memiliki emas fisik.

Selain The Reserve, Singapura memiliki fasilitas penyimpanan logam mulia lainnya, yakni Le Freeport.

Berdasarkan data operator yang dikutip dalam laporan tersebut, The Reserve dan Le Freeport memiliki kapasitas penyimpanan gabungan sedikitnya 2.200 ton emas. Le Freeport sendiri mampu menampung sedikitnya 1.700 ton.

Fasilitas Le Freeport dikenal dengan julukan Fort Knox Asia, merujuk pada fasilitas penyimpanan emas terkenal di Amerika Serikat.

Kapasitas penyimpanan yang besar menjadi salah satu pendukung ekosistem perdagangan emas Singapura. Infrastruktur tersebut memungkinkan investor menyimpan logam mulia dalam jumlah besar di luar negara asal mereka.

Tonton: Singapura Perluas Penyelidikan Karhutla RI, Kini Bidik 10 Perusahaan?

Singapura Perkuat Posisi sebagai Pusat Perdagangan Emas

Pemerintah Singapura turut mengembangkan infrastruktur untuk memperkuat posisi negara tersebut sebagai pusat perdagangan emas batangan.

Upaya ini berlangsung ketika ketidakpastian geopolitik, persoalan utang pemerintah, dan risiko politik mendorong investor mempertimbangkan kembali strategi penyimpanan kekayaan mereka.

Emas fisik menjadi salah satu pilihan untuk diversifikasi aset, meskipun nilainya tetap dapat berfluktuasi dan kepemilikannya memiliki biaya penyimpanan serta risiko keamanan.

Perkembangan fasilitas penyimpanan, ekspansi layanan perbankan, dan meningkatnya permintaan investor asing memperlihatkan peluang ekonomi yang muncul dari tren tersebut.

Bagi Singapura, pertumbuhan bisnis emas bukan hanya berkaitan dengan aktivitas investasi, tetapi juga memperkuat perannya dalam perdagangan dan penyimpanan logam mulia di tingkat internasional.







Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/10/25/181046826/orang-kaya-dunia-pindahkan-emas-ke-singapura-apa-pemicunya?page=all#page2.


 

PM Singapura Lawrence Wong Tanggapi Pemotongan Gas RI




TERBARU

[X]
×