Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham global bergerak naik-turun pada Selasa (7/4/2026), sementara harga minyak bertahan di dekat US$110 per barel.
Dipicu kemungkinan eskalasi perang di Timur Tengah dan tenggat waktu kesepakatan yang ditetapkan membuat investor berhati-hati.
Pasar telah terguncang sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari, dengan Tehran menutup Selat Hormuz jalur transit minyak global yang krusial yang memicu kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: Rupiah dan Ringgit Paling Loyo Selasa (7/4) Pagi, Mata Uang Asia Lain Bergerak Tenang
Meski investor menaruh harapan pada penyelesaian konflik, pembicaraan sejauh ini belum membuahkan hasil.
Presiden AS Donald Trump menetapkan batas waktu Selasa pukul 20.00 waktu Timur (Rabu 00.00 GMT) untuk tercapainya kesepakatan.
Situasi ini membuat pasar menunggu keputusan, dengan dolar AS mempertahankan penguatannya sementara harga minyak terus naik.
Minyak mentah Brent naik 0,4% menjadi US$110,19 per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI) crude futures naik 0,8% menjadi US$113,31 per barel
Prediksi laba kuartalan rekor dari pembuat chip Samsung Electronics sempat menenangkan investor, namun fokus tetap pada konflik Iran.
Baca Juga: Bursa Australia Naik 2,5% Selasa (7/4) Pagi, Didukung Sektor Pertambangan & Perbankan
Melansir Reuters, Indeks MSCI kawasan Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,4%. Sementara itu, Nikkei Jepang bergerak fluktuatif dan akhirnya turun 0,2%.
Futures saham AS melemah 0,55%, sedangkan futures Eropa menunjukkan potensi pembukaan positif setelah libur panjang pada Jumat dan Senin.
"Kami kembali ke hitungan mundur yang ditetapkan Trump, dan sulit memprediksi apa yang akan terjadi," kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com.
"Trader yang berani mungkin bertaruh ke satu arah, tapi yang lain akan berusaha lindung nilai atau menunggu. Sementara itu, sebagian besar investor hanya bisa menunggu."
Iran menyatakan ingin mengakhiri perang secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara, dan menolak tekanan untuk membuka kembali jalur air yang menjadi konduit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Iran Tolak Gencatan Senjata, Trump Perketat Ancaman Menjelang Tenggat Hormuz
Trump memperingatkan Iran bisa “dihancurkan” jika tidak memenuhi tenggat kesepakatan, berjanji menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran, sambil menepis kekhawatiran bahwa tindakan tersebut bisa menjadi kejahatan perang.
"Setiap tindak lanjut ancaman terhadap infrastruktur energi Iran akan menandai eskalasi signifikan, meningkatkan risiko tindakan balasan yang bisa mengganggu fasilitas energi Teluk," kata Vasu Menon, Managing Director strategi investasi di OCBC Singapura.
Konflik ini memicu kekhawatiran stagflasi inflasi tinggi dengan pertumbuhan lemah yang mengubah ekspektasi suku bunga global.
Saat ini, trader tidak lagi memperhitungkan potensi pemotongan suku bunga Federal Reserve tahun ini.
Data pada Senin menunjukkan pertumbuhan sektor jasa AS melambat pada Maret, sementara harga input bisnis naik paling tinggi dalam 13 tahun terakhir, sebagai indikasi awal bahwa perang berkepanjangan dengan Iran mendorong tekanan inflasi.
Baca Juga: Pemerintah Jepang: Iran Bebaskan Warga Negara Jepang yang Ditahan dengan Jaminan
Data inflasi AS dijadwalkan rilis minggu ini, namun perhatian investor saat ini tertuju pada tenggat waktu perang Trump dan kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Di pasar valuta, euro stabil di US$1,1538. Indeks dolar, yang mengukur dolar AS terhadap enam mata uang utama, berada di 100,06, mendekati level tertingginya, sebagai pilihan safe haven bagi investor.
Yen Jepang diperdagangkan 159,91 per dolar AS, mendekati level krusial 160 yang dipantau trader untuk mengantisipasi potensi intervensi Tokyo.
Harga emas turun 0,17% menjadi US$4.640 per ounce pada perdagangan awal.













