Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Iran menegaskan ingin mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel secara permanen, sekaligus menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran bisa “dihancurkan” jika tidak memenuhi tenggat waktu Selasa malam untuk mencapai kesepakatan.
Melansir Reuters Selasa (7/4/2026), menanggapi proposal AS melalui mediasi Pakistan, Teheran menolak gencatan senjata dan menekankan perlunya penyelesaian permanen.
Baca Juga: Pemerintah Jepang: Iran Bebaskan Warga Negara Jepang yang Ditahan dengan Jaminan
IRNA melaporkan bahwa respons Iran terdiri dari 10 poin, termasuk penyelesaian konflik regional, protokol jalur aman Hormuz, penghapusan sanksi, dan rekonstruksi.
Trump menegaskan tenggat waktu pukul 20.00 EDT Selasa (04.00 GMT) bersifat final.
“Iran bisa diambil alih dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump dalam konferensi pers.
Ia berjanji akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran, meski ada kekhawatiran hal ini bisa dianggap kejahatan perang.
Menanggapi ancaman Trump, Iran menyebut presiden AS “delusional” dan menilai pernyataannya sebagai “retorika kasar, arogan, dan ancaman tanpa dasar,” kata juru bicara Komando Militer Gabungan Iran Ebrahim Zolfaqari.
Baca Juga: Inflasi Tahunan Filipina Melonjak ke 4,1% pada Maret 2026
Wakil Menteri Olahraga Iran, Alireza Rahimi, menyerukan warga membentuk rantai manusia di pembangkit listrik sebagai protes terhadap serangan infrastruktur publik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menegaskan, “Para agresor akan melihat kekuatan kami” menanggapi serangan di Sharif University of Technology, Teheran, yang merusak pusat data AI dan fasilitas penelitian lainnya.
Serangan terus berlanjut di kawasan. Militer Israel melaporkan gelombang serangan udara terhadap infrastruktur Iran, sementara pertahanan udara Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain diaktifkan untuk menghadapi ancaman rudal.
Menurut kelompok HAM HRANA, perang Iran telah menewaskan ribuan orang di Timur Tengah, termasuk 3.546 di Iran dan hampir 1.500 di Lebanon.
Baca Juga: SpaceX Siapkan IPO Raksasa, Incar Investor Ritel dan Roadshow Juni 2026
Analisis ekonom Mohammad Alipour mengatakan, “Penutupan Selat Hormuz adalah senjata ekonomi utama Teheran. Ancaman militer AS dan Israel memperburuk ketidakpastian energi global dan tekanan harga minyak.”













