Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan antara China dan Filipina di Laut China Selatan kembali meningkat. Militer China mengerahkan kapal perang dan pesawat militernya untuk melakukan patroli kesiapan tempur di sekitar Scarborough Shoal pada Jumat (30/10/2026).
Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menyatakan, patroli tersebut merupakan langkah untuk merespons tindakan Filipina yang dinilai melanggar hak-hak China dan melakukan provokasi.
Dalam pernyataan resminya, militer China menyebut patroli tersebut sebagai "tindakan balasan yang diperlukan sebagai respons terhadap pelanggaran hak dan tindakan provokatif Filipina". China juga menyatakan telah meningkatkan intensitas patroli di kawasan tersebut sepanjang Oktober 2026.
Kedutaan Besar Filipina di Beijing maupun pihak militer Filipina belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait aktivitas militer China tersebut.
Ketegangan kedua negara kembali mencuat pada penutupan pertemuan pertahanan dua hari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: China dan Swiss Sepakati Perjanjian Dagang, Perluas Pasar di Tengah Proteksionisme
Dalam kesempatan tersebut, Beijing menuduh seorang politikus Filipina yang tidak disebutkan namanya telah menghalangi partisipasi China dalam pertemuan tersebut. Sementara itu, Manila menyatakan bahwa China telah diberikan kesempatan untuk menyampaikan posisinya dalam forum tersebut.
Perselisihan China dan Filipina di Laut China Selatan merupakan bagian dari sengketa wilayah yang telah berlangsung lama. China mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui peta garis sembilan putus-putus atau nine-dash line.
Klaim tersebut mencakup sebagian zona ekonomi eksklusif (ZEE) sejumlah negara, yakni Malaysia, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan Indonesia.
Pada 2016, tribunal arbitrase internasional memutuskan bahwa klaim luas China atas Laut China Selatan tidak memiliki dasar berdasarkan hukum internasional. Namun, Beijing menolak keputusan tersebut.
Militer China menegaskan, patroli di sekitar Scarborough Shoal bertujuan memperkuat pengawasan dan pengendalian wilayah perairan serta ruang udara di kawasan tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus US$ 117 per Barel di Tengah Konflik AS-Iran
"Patroli tersebut bertujuan untuk lebih meningkatkan pengendalian dan pengelolaan wilayah perairan serta ruang udara terkait, sekaligus menjadi tindakan balasan yang efektif untuk menghadapi berbagai pelanggaran hak dan tindakan provokatif," demikian pernyataan militer China.
Secara terpisah, Penjaga Pantai China atau China Coast Guard (CCG) juga menggelar patroli penegakan hukum di perairan sekitar Scarborough Shoal pada Jumat.
Penjaga Pantai China menyebut aktivitas tersebut sebagai "tindakan balasan yang diperlukan sebagai respons terhadap pelanggaran hak dan tindakan provokatif Filipina".
Meski demikian, baik militer China maupun Penjaga Pantai China tidak merinci tindakan Filipina yang menjadi dasar pelaksanaan patroli tersebut.














