kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

China Gelar Patroli di Laut China Selatan, Filipina Siaga


Minggu, 31 Mei 2026 / 14:02 WIB
China Gelar Patroli di Laut China Selatan, Filipina Siaga
ILUSTRASI. Patroli militer dan penjaga pantai China di Scarborough Shoal memicu ketegangan. Filipina sebut ancaman Beijing masih berat. (US NAVY/via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Militer dan penjaga pantai China mengumumkan telah melaksanakan patroli di sekitar Scarborough Shoal di Laut China Selatan pada Minggu (31/5/2026).

Aktivitas tersebut berlangsung sehari setelah Menteri Pertahanan Filipina menegaskan bahwa Manila masih menghadapi ancaman serius dari Beijing meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan China belakangan mereda.

Scarborough Shoal merupakan salah satu wilayah maritim yang paling diperebutkan di Asia. Kawasan ini kerap menjadi titik panas perselisihan antara China dan Filipina terkait klaim kedaulatan serta hak penangkapan ikan.

Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menyatakan melalui platform WeChat bahwa unit angkatan laut dan udara mereka melakukan patroli kesiapsiagaan tempur di wilayah yang disebut sebagai "laut teritorial dan wilayah udara" atol tersebut beserta area sekitarnya.

"Patroli semacam ini menjadi langkah penanggulangan yang efektif untuk menghadapi berbagai tindakan pelanggaran hak dan provokasi," demikian pernyataan Komando Teater Selatan PLA.

Baca Juga: PMI Manufaktur China Stagnan pada Mei 2026, Ekspor dan Permintaan Melemah

Dalam pernyataan terpisah, Penjaga Pantai China mengatakan pihaknya juga melaksanakan patroli penegakan hukum di sekitar Scarborough Shoal. Mereka menambahkan bahwa sepanjang bulan ini telah menangani kapal-kapal yang terlibat dalam "aktivitas pelanggaran hak secara ilegal sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku", tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Kedutaan Besar Filipina di Beijing belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirim melalui surat elektronik.

Filipina Sebut Ancaman dari China Masih Berat

Patroli tersebut berlangsung saat para menteri pertahanan, petinggi militer, dan pembuat kebijakan dari kawasan Asia-Pasifik serta negara-negara lainnya berkumpul di Singapura dalam forum Shangri-La Dialogue, salah satu forum pertahanan paling bergengsi di Asia.

Dalam wawancara dengan Reuters di sela-sela pertemuan tersebut, Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro, mengatakan Filipina masih menghadapi "ancaman serius" dari China, baik dari sisi teritorial maupun politik.

Menurut Teodoro, kondisi tersebut tetap terjadi meskipun hubungan antara Washington dan Beijing menunjukkan perbaikan setelah pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada awal bulan ini.

"Kami tidak memiliki pilihan lain selain memperkuat ketahanan dan berdiri teguh menghadapi agresi China," ujar Teodoro.

Dalam beberapa tahun terakhir, Filipina dan China berulang kali terlibat konfrontasi di Laut China Selatan. Sejumlah insiden bahkan menyebabkan tabrakan kapal dan cedera pada personel yang terlibat.

Baca Juga: Permintaan Global Melemah, Pesanan Ekspor China Jatuh ke Zona Kontraksi

Sengketa Laut China Selatan Belum Mereda

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui peta yang dikenal sebagai "sembilan garis putus-putus" atau nine-dash line. Klaim tersebut mencakup wilayah yang masuk dalam zona ekonomi eksklusif Filipina, Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia.

Perselisihan mengenai puluhan pulau, atol, dan fitur maritim lainnya telah berlangsung selama beberapa dekade. Klaim Taiwan di Laut China Selatan juga secara umum serupa dengan klaim yang diajukan Beijing.

Pada 2016, Permanent Court of Arbitration di Den Haag memutuskan bahwa klaim China di Laut China Selatan tidak memiliki dasar hukum internasional. Namun, pemerintah China menolak putusan tersebut dan tetap mempertahankan posisinya atas wilayah yang disengketakan.




TERBARU

[X]
×