kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Permintaan Global Melemah, Pesanan Ekspor China Jatuh ke Zona Kontraksi


Minggu, 31 Mei 2026 / 12:16 WIB
Permintaan Global Melemah, Pesanan Ekspor China Jatuh ke Zona Kontraksi
ILUSTRASI. CHINA-ECONOMY-TRADE (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas manufaktur China mengalami stagnasi pada Mei 2026 seiring melemahnya pesanan ekspor baru dan masih tingginya tekanan biaya produksi. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mulai kehilangan momentum pertumbuhan meskipun sektor jasa dan industri teknologi tinggi masih menunjukkan ketahanan.

Data Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Minggu (31/5/2026) menunjukkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur turun menjadi 50 pada Mei dari 50,3 pada April. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters dan berada tepat di batas antara ekspansi dan kontraksi.

Capaian tersebut menjadi level terendah dalam tiga bulan terakhir dan mengikuti sejumlah data ekonomi yang sebelumnya menunjukkan perlambatan momentum pertumbuhan China pada April, meskipun ekspor sempat mengalami pemulihan.

Baca Juga: Data Tenaga Kerja AS Jadi Sorotan Pekan Depan, Pasar Global Makin Waspada

Survei PMI menunjukkan sisi pasokan masih membaik, namun permintaan mulai melemah. Indeks produksi tercatat di level 51,2, sementara indeks pesanan baru turun ke 49,9 atau masuk zona kontraksi.

Tekanan terbesar datang dari pasar ekspor. Indeks pesanan ekspor baru merosot menjadi 48,6 dari 50,3 pada April, menandakan berkurangnya permintaan luar negeri terhadap produk manufaktur China.

Analis China Logistics Information Center, Wen Tao, mengatakan pelemahan permintaan global terutama terjadi pada sektor manufaktur barang konsumsi.

“Perlambatan permintaan luar negeri terlihat cukup menonjol, terutama akibat kontraksi yang signifikan pada ekspor sektor manufaktur barang konsumsi,” ujarnya.

Kondisi tersebut menambah tantangan bagi pemerintah China yang selama ini masih mengandalkan permintaan global untuk menyerap produksi industrinya. Di dalam negeri, lemahnya sektor properti, pasar tenaga kerja, dan konsumsi rumah tangga masih menjadi penghambat pemulihan ekonomi.

Pemerintah China sebelumnya telah berkomitmen mengatasi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan serta menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 yang lebih moderat guna memberi ruang lebih besar bagi reformasi struktural.

Di sisi lain, produsen juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan baku. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong lonjakan harga energi global.

Indeks harga bahan baku dalam survei PMI memang turun menjadi 60,5 dari 63,7 pada April, namun masih berada jauh di atas level 50 yang menandakan biaya input terus meningkat.

Menurut Wen Tao, kenaikan harga bahan baku turut mendorong peningkatan harga produk jadi sehingga menekan margin keuntungan industri manufaktur.

Baca Juga: Aktivitas Manufaktur China Stagnan pada Mei, Tekanan Permintaan Domestik Meningkat

Meski demikian, tidak semua sektor mengalami perlambatan. Data NBS menunjukkan manufaktur berteknologi tinggi dan industri peralatan masih tumbuh lebih kuat dibandingkan rata-rata sektor manufaktur, dengan PMI masing-masing mencapai 52,9 dan 52,1.

Permintaan global terhadap semikonduktor dan produk terkait kecerdasan buatan (AI), serta aksi penimbunan stok oleh pembeli yang mengantisipasi kenaikan harga lebih lanjut, menjadi faktor yang menopang kinerja industri teknologi tersebut.

Sementara itu, aktivitas sektor nonmanufaktur yang mencakup jasa dan konstruksi justru menunjukkan perbaikan. PMI nonmanufaktur naik menjadi 50,1 dari 49,4 pada April.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh lonjakan belanja perjalanan selama libur lima hari Hari Buruh pada awal Mei. Indeks aktivitas sektor jasa juga naik menjadi 50,3, level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir.

Perkembangan ini menunjukkan upaya Beijing untuk memperkuat sektor jasa mulai memberikan hasil, di tengah perlambatan permintaan terhadap barang-barang manufaktur.




TERBARU

[X]
×