Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas manufaktur China tercatat stagnan pada Mei 2026, menunjukkan tekanan yang masih membebani sektor industri akibat lemahnya permintaan domestik dan meningkatnya biaya produksi.
Berdasarkan survei resmi yang dirilis pada Minggu (31/5), indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur China turun menjadi 50 dari 50,3 pada April. Angka tersebut berada tepat di ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi aktivitas ekonomi.
Data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics) menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih berada dalam kondisi rapuh, dengan pertumbuhan yang nyaris tidak bergerak.
Baca Juga: Trump Hadiri Perayaan 250 Tahun AS, Sejumlah Artis Pilih Mundur dari Acara
Hasil tersebut juga sedikit di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan PMI berada di level 50.
PMI yang berada di level 50 menandakan bahwa aktivitas industri tidak mengalami pertumbuhan maupun kontraksi secara signifikan, mencerminkan stagnasi di sektor manufaktur yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi China.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa perekonomian China masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi permintaan dalam negeri yang lemah serta tekanan biaya produksi yang meningkat, yang dapat mempengaruhi prospek pemulihan sektor industri ke depan.













