kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Filipina Temukan Sianida di Kapal China, Ancam Ekosistem Laut China Selatan


Senin, 13 April 2026 / 15:22 WIB
Filipina Temukan Sianida di Kapal China, Ancam Ekosistem Laut China Selatan
ILUSTRASI. Filipina temukan sianida di kapal China dekat atol sengketa. Zat beracun ini mengancam ekosistem laut dan sumber pangan (Philippine Coast Guard/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas keamanan Filipina mengungkap temuan zat beracun sianida pada kapal-kapal China yang beroperasi di sekitar atol sengketa di Laut China Selatan. Temuan ini memicu kekhawatiran serius terhadap ekosistem laut serta memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Pejabat menyatakan bahwa hasil uji laboratorium mengonfirmasi keberadaan sianida dalam botol yang disita oleh angkatan laut Filipina dalam operasi di Second Thomas Shoal pada tahun lalu. Atol tersebut, yang dikenal di Filipina sebagai Ayungin Shoal, menjadi titik panas sengketa antara Manila dan Beijing.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Filipina, Cornelio Valencia, menegaskan bahwa penggunaan sianida merupakan bentuk sabotase yang berpotensi merusak populasi ikan lokal.

"Kami ingin menegaskan bahwa penggunaan sianida di Ayungin Shoal merupakan bentuk sabotase yang bertujuan membunuh populasi ikan lokal, sehingga merampas sumber pangan penting bagi personel angkatan laut," ujarnya dalam konferensi pers.

Baca Juga: Inggris Tegaskan Tidak Akan Terlibat Perang Iran, Fokus Dorong Pembukaan Selat Hormuz

Selain mengancam sumber pangan bagi personel militer Filipina yang ditempatkan di kapal perang yang sengaja dikandaskan di atol tersebut, penggunaan sianida juga dinilai dapat merusak terumbu karang. Kerusakan ini berpotensi melemahkan struktur dasar yang menopang kapal tersebut dan mengganggu stabilitasnya.

Ketegangan Filipina–China Kian Memanas

Kedutaan Besar China di Manila belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut. Namun, sebelumnya China membantah tuduhan agresi di kawasan dan menuduh Filipina melakukan pelanggaran wilayah.

Filipina juga menuding China kerap mengganggu misi pengiriman logistik ke pasukan mereka di lokasi tersebut. Salah satu insiden pada 17 Juni 2024 bahkan berujung kekerasan dan menyebabkan seorang pelaut Filipina kehilangan jari.

Insiden tersebut kemudian mendorong tercapainya kesepahaman sementara terkait mekanisme pengiriman logistik ke kapal yang dikandaskan.

Upaya Diplomasi dan Batas Kerja Sama

Meski ketegangan meningkat, kedua negara tetap melakukan dialog tingkat tinggi bulan lalu untuk membahas potensi kerja sama, termasuk di sektor minyak dan gas, serta langkah-langkah membangun kepercayaan di laut.

Baca Juga: OpenAI Buka Kantor Permanen di London, Perkuat Ekspansi AI di Inggris

Kementerian Luar Negeri Filipina menegaskan bahwa kerja sama dengan China, khususnya antara penjaga pantai, akan bersifat terbatas dan tidak mencakup area operasional sensitif. Selain itu, tidak ada pembahasan terkait patroli bersama.

Sengketa Laut China Selatan dan Dampak Global

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, termasuk area yang juga diklaim oleh beberapa negara seperti Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Namun, putusan tribunal arbitrase internasional pada 2016 menyatakan klaim luas China tidak memiliki dasar hukum internasional—keputusan yang hingga kini ditolak Beijing.

Laut China Selatan merupakan jalur perdagangan strategis dengan nilai lebih dari US$3 triliun per tahun. Oleh karena itu, setiap eskalasi konflik di kawasan ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×