Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Jumat (6/11/2026), setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1% menjadi US$ 4.047,10 per ons troi pada pukul 08.46 waktu New York atau 20.46 WIB. Sebelumnya, harga logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah intraday di US$ 4.033,29 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 1,4% menjadi US$ 4.057,20 per ons troi.
Baca Juga: Lapangan Kerja AS Bertambah 165.000 pada Oktober, Pengangguran Turun ke 4,1%
Meski terkoreksi pada perdagangan harian, harga emas spot masih mencatat kenaikan sekitar 4,5% sepanjang pekan ini. Kinerja tersebut berpotensi menjadi kenaikan mingguan terbaik sejak akhir Agustus.
Tekanan terhadap harga emas datang setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan jumlah pekerja nonpertanian atau nonfarm payrolls pada Oktober melampaui ekspektasi pasar.
Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,1%, mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh.
Data tersebut memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk memusatkan perhatian pada tekanan inflasi, termasuk yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Indeks dolar AS naik 0,7% ke level tertinggi sejak 29 Oktober, sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Baca Juga: Thomas Tuchel Coret Cole Palmer dari Skuad Timnas Inggris, Ini Alasannya
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga meningkat. Kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil atau bunga.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan, harga emas sempat terkoreksi tajam setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang kuat di berbagai indikator.
Namun, harga kemudian berupaya bangkit dari posisi terendahnya. "Ini menjadi ujian bagi reli harga emas sepanjang pekan ini," ujar Wong.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember mencapai 74,8%, meningkat dari 72,8% sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut juga sejalan dengan pandangan dua pejabat The Fed yang pada Kamis (5/11) mendukung kenaikan suku bunga secara bertahap untuk mengendalikan inflasi yang masih berada di atas target.
Baca Juga: Gelombang Ancaman Bom Kembali Sasar Penerbangan Eropa, Ini Perkembangannya
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent berpeluang mencatat penurunan tajam secara mingguan. Pasar memperkirakan potensi meredanya ketegangan dalam perang AS-Iran setelah hasil pemilihan paruh waktu AS. Meski begitu, kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi penopang harga.
Dari pasar fisik, penurunan harga emas justru mendorong minat beli konsumen ritel di India menjelang festival Diwali.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam setahun, yakni US$ 3.869,85 per ons troi pada 30 Oktober.
Adapun pergerakan logam mulia lainnya bervariasi. Harga perak spot naik 0,3% menjadi US$ 51,92 per ons troi, sedangkan platinum menguat 0,5% menjadi US$ 1.524,03 per ons troi.
Sebaliknya, paladium turun 1,6% menjadi US$ 1.015 per ons troi. Ketiga logam tersebut masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan sepanjang pekan ini.
Baca Juga: Investasi Saham Trump Media Babak Belur, Investor Rugi US$ 2,2 Miliar













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
