Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak untuk kuartal IV seiring ketatnya pasokan global akibat turunnya produksi dari Timur Tengah.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent pada kuartal IV akan mencapai US$ 90 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan berada di level US$ 83 per barel.
Melansir Reuters, para analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Daan Struyven menyatakan bahwa risiko ekonomi saat ini lebih besar dibandingkan perkiraan dasar mereka, karena adanya potensi kenaikan harga minyak yang lebih tinggi dari ekspektasi.
Menurut mereka, situasi diperburuk oleh tingginya harga produk olahan minyak, risiko kelangkaan produk, serta skala guncangan pasokan yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya.
Goldman Sachs juga menyampaikan beberapa catatan penting:
Proyeksi tersebut mengasumsikan adanya normalisasi ekspor minyak dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz pada akhir Juni, lebih lambat dibanding estimasi sebelumnya yang memperkirakan pemulihan terjadi pada pertengahan Mei. Selain itu, pemulihan produksi minyak kawasan Teluk diperkirakan lebih lambat.
Baca Juga: Trump: Tersangka Penembakan Saat Makan Malam Gedung Putih Penuh Kebencian di Hatinya
Goldman Sachs memperkirakan hilangnya produksi minyak mentah Timur Tengah sebesar 14,5 juta barel per hari telah mendorong penurunan persediaan minyak global dengan kecepatan rekor sekitar 11–12 juta barel per hari pada April.
Goldman memperkirakan pasar minyak global akan berubah drastis dari kondisi surplus 1,8 juta barel per hari pada 2025 menjadi defisit 9,6 juta barel per hari pada kuartal II 2026.
Permintaan minyak global diperkirakan turun 1,7 juta barel per hari pada kuartal II, dan turun sekitar 100.000 barel per hari sepanjang 2026 secara tahunan, akibat lonjakan harga produk olahan minyak.
Tonton: Deadlock Iran-AS, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Islamabad
Para analis menegaskan bahwa penurunan persediaan yang ekstrem tidak mungkin bertahan lama. Jika guncangan pasokan berlangsung lebih lama, maka pasar mungkin membutuhkan penurunan permintaan yang lebih tajam untuk menyeimbangkan kondisi.













