kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Demi bailout, Parlemen Yunani setuju penghematan


Senin, 23 Mei 2016 / 07:26 WIB
Demi bailout, Parlemen Yunani setuju penghematan


Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

YUNANI. Parlemen Yunani kembali menyetujui pemangkasan anggaran baru serta kenaikan pajak demi membuka keran dana bailout yang mereka butuhkan. Langkah ini dilakukan dua hari menjelang pertemuan menteri keuangan negara-negara Eropa pada Selasa (24/5) besok.

Pemerintah yang dipimpin oleh koalisi Partai Syriza menyetujui keputusan yang tidak populer ini dengan perbandingan suara 153:145.

Sekadar mengingatkan, Yunani menyetujui penggelontoran bailout ketiga senilai US$ 96 miliar pada tahun lalu.

Sementara itu, di luar gedung parlemen, aksi demonstrasi terjadi. Warga Yunani memprotes kebijakan baru yang dianggap semakin memberatkan kehidupan mereka yang saat ini sudah sulit.

Meski demikian, Perdana Menteri Alexis Tsipras memiliki argumen tersendiri. "Pimpinan Eropa mendapatkan pesan bahwa Yunani memegang teguh janji mereka. Sekarang giliran mereka," jelasnya sepperti yang dikutip AP.

Banyak warga Yunani yang merasa kehilangan harapan oleh pemerintahan Tsipras. Pasalnya, Tsipras bisa menduduki tampuk pemerintahan pada pemilu Januari 2015 lalu seiring janjinya yang menentang pemangkasan anggaran.   

Partai Syriza kembali menang pada pemilu September 2015 setelah menerima persyaratan sulit pada bailout ketiga.

"Sebagai warga Yunani, saya merasa kekuatan saya saat ini hanyalah bersiap akan datangnya pemangkasan baru dan kebijakan-kebijakan lain. Saya menyebutnya putus asa. Moto Syriza pada pemilu Januari 2015 adalah "datangnya harapan". Sekarang, masyarakat benar-benar tanpa harapan," urai Elias Toumasatos, guru di pulau Cephalonia.




TERBARU

[X]
×