kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.803   -27,00   -0,16%
  • IDX 8.266   133,82   1,65%
  • KOMPAS100 1.166   20,62   1,80%
  • LQ45 839   9,53   1,15%
  • ISSI 295   6,69   2,32%
  • IDX30 434   3,42   0,79%
  • IDXHIDIV20 518   -0,77   -0,15%
  • IDX80 130   2,13   1,66%
  • IDXV30 142   1,03   0,73%
  • IDXQ30 140   -0,08   -0,06%

Bitcoin Anjlok 50%, Apakah Masuk Krisis? Ini Penjelasan Analis


Senin, 09 Februari 2026 / 02:40 WIB
Bitcoin Anjlok 50%, Apakah Masuk Krisis? Ini Penjelasan Analis
ILUSTRASI. Harga Bitcoin terjun 50%, memicu kepanikan. Tapi veteran hedge fund Gary Bode punya pandangan berbeda. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: CoinDesk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Penurunan tajam harga Bitcoin, yang mencapai hampir 50% dari rekor tertingginya beberapa bulan lalu,  kembali memicu perdebatan soal stabilitas kripto. Namun, veteran hedge fund Gary Bode menilai aksi jual ini bukan tanda krisis besar, melainkan bagian dari karakter alami Bitcoin yang memang sangat volatil.

Melansir CoinDesk.com, dalam unggahan di X, Bode mengatakan penurunan harga terbaru memang tidak menyenangkan dan mengejutkan, tapi bukan hal baru dalam sejarah Bitcoin. Menurutnya, penurunan 80% hingga 90% pernah terjadi berkali-kali. 

“Mereka yang sanggup menahan volatilitas yang selalu bersifat sementara ini biasanya justru mendapatkan imbal hasil jangka panjang yang luar biasa,” ujarnya.

Bode menilai gejolak terbaru banyak dipicu oleh reaksi pasar terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Investor menafsirkan langkah ini sebagai sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish), yang berarti suku bunga bisa naik. Kondisi ini membuat aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin, emas, dan perak jadi kurang menarik. Selain itu, margin call pada posisi leverage memperparah penurunan karena memicu aksi jual paksa berantai.

Namun, Bode tidak sepakat dengan tafsir pasar tersebut. Ia menunjuk pernyataan Warsh yang justru mendukung suku bunga lebih rendah, serta pernyataan Presiden Trump yang menyebut Warsh menjanjikan fed funds rate yang lebih rendah. 

Baca Juga: Elon Musk Memperingatkan Amerika Serikat akan 1.000% Bangkrut

Ditambah dengan defisit anggaran AS yang masih sangat besar, Bode menilai kemampuan The Fed untuk benar-benar mengendalikan imbal hasil obligasi jangka panjang (Treasury) jadi terbatas. Padahal, yield ini sangat penting untuk biaya pinjaman korporasi dan KPR. 

“Saya pikir pasar keliru membaca situasi ini,” kata Bode, seraya menekankan bahwa persepsi pasar, bukan fundamental, yang mendorong banyak aksi jual.

Ia juga menilai penjelasan lain yang sering muncul tidak sepenuhnya tepat. Salah satunya teori bahwa “whales” (pemilik Bitcoin awal yang membeli atau menambang saat harga masih sangat murah) sedang melepas kepemilikan. 

Bode mengakui dompet besar memang aktif dan ada penjual besar, tetapi ia melihatnya lebih sebagai aksi ambil untung, bukan sinyal kelemahan jangka panjang. 

“Keahlian teknis para early adopter dan miner itu patut diapresiasi. Tapi penjualan mereka tidak otomatis memberi gambaran soal masa depan Bitcoin,” ujarnya.

Baca Juga: India Mulai Jauhi Minyak Rusia Demi Muluskan Pakta Dagang dengan AS


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×