kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Bitcoin Anjlok 50%, Apakah Masuk Krisis? Ini Penjelasan Analis


Senin, 09 Februari 2026 / 02:40 WIB
Bitcoin Anjlok 50%, Apakah Masuk Krisis? Ini Penjelasan Analis
ILUSTRASI. Harga Bitcoin terjun 50%, memicu kepanikan. Tapi veteran hedge fund Gary Bode punya pandangan berbeda. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: CoinDesk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Bode juga menyoroti Strategy sebagai potensi sumber tekanan jangka pendek. Saham perusahaan itu turun setelah harga Bitcoin jatuh di bawah harga beli sebagian kepemilikannya, sehingga muncul kekhawatiran Michael Saylor bisa menjual. 

Menurut Bode, risiko ini nyata tapi terbatas. Ia membandingkannya dengan situasi ketika Warren Buffett membeli saham besar: investor senang dengan dukungan itu, tapi juga khawatir soal potensi penjualan di masa depan. Ia menegaskan, Bitcoin tetap akan bertahan, meski harga bisa turun sementara.

Faktor lain adalah meningkatnya “paper Bitcoin”,  instrumen keuangan seperti ETF dan derivatif yang melacak harga Bitcoin tanpa harus memiliki koin fisiknya. Instrumen ini memang menambah pasokan efektif untuk diperdagangkan, tetapi tidak mengubah batas maksimal Bitcoin yang tetap 21 juta koin. 

Menurut Bode, batas ini tetap menjadi jangkar penting bagi nilai jangka panjang. Ia membandingkannya dengan pasar perak, di mana perdagangan “kertas” awalnya bisa menekan harga, sampai permintaan fisik akhirnya mendorong harga naik.

Sebagian analis juga berpendapat kenaikan harga energi bisa merugikan penambangan Bitcoin dan menurunkan hash rate, yang berpotensi menekan harga jangka panjang. Bode menilai kekhawatiran ini berlebihan. Data historis menunjukkan penurunan harga Bitcoin tidak selalu diikuti penurunan hash rate, dan kalaupun terjadi, biasanya baru terasa beberapa bulan kemudian.

Ia juga menyinggung teknologi energi baru, seperti reaktor nuklir modular kecil dan pusat data AI bertenaga surya, yang berpotensi menyediakan listrik murah untuk penambangan di masa depan.

Tonton: Regulasi Tak Konsisten, Investor Pilih Thailand dan Vietnam Ketimbang Indonesia

Menanggapi kritik bahwa Bitcoin bukan “penyimpan nilai” (store of value), Bode menilai hampir semua aset juga memiliki risiko, termasuk mata uang fiat yang didukung oleh negara dengan utang besar. Ia menyindir, emas pun butuh energi untuk diamankan kecuali jika “Anda nyaman meninggalkannya di teras rumah.” 

Menurutnya, paper Bitcoin bisa memengaruhi harga jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang tetap hanya ada 21 juta Bitcoin. 

“Kalau Anda ingin memiliki Bitcoin, itu adalah aset yang sebenarnya. Bitcoin tidak butuh izin dan tidak mengharuskan Anda percaya pada pihak lawan transaksi,” katanya.

Kesimpulannya, Bode melihat penurunan terbaru ini sebagai konsekuensi alami dari desain Bitcoin. Volatilitas adalah bagian dari permainannya. Mereka yang mampu bertahan menghadapi gejolak ini, menurutnya, berpotensi mendapat imbalan dalam jangka panjang. 

Bagi investor, pelajaran utamanya: fluktuasi harga yang tajam tidak selalu berarti ada risiko sistemik besar.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×