Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penjualan alat dan mesin pertanian di Amerika Utara mengalami perlambatan signifikan menjelang musim tanam musim semi. Para tenaga penjual melaporkan musim pameran pertanian tahun ini berjalan lesu, seiring petani menahan pembelian alat berat akibat tekanan biaya dan turunnya harga komoditas.
Di ajang pameran pertanian di Regina, Saskatchewan, Kanada, minat terhadap pembelian alat berat terlihat menurun. Meskipun ribuan pengunjung hadir, aktivitas transaksi untuk mesin berharga tinggi relatif sepi.
Chad Jones dari Degelman Industries menyebut petani masih berbelanja, tetapi lebih selektif. Mereka cenderung menghindari pembelian alat mahal seperti combine harvester senilai jutaan dolar, dan lebih memilih peralatan dengan harga lebih rendah.
Penjualan Alat Berat Turun Tajam
Data dari Association of Equipment Manufacturers menunjukkan penjualan alat berat seperti traktor dan combine di Amerika Serikat turun sekitar 30% hingga 40% pada Maret dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Filipina Dapat Jaminan Iran soal Keamanan Pasokan Energi dan Pelaut di Selat Hormuz
Penurunan ini dipicu oleh tekanan pada keuangan petani akibat tingginya biaya produksi, termasuk harga pupuk, bahan bakar, dan mesin pertanian. Selain itu, melimpahnya pasokan global biji-bijian juga menekan harga hasil panen, sehingga mengurangi daya beli petani.
Dampak Kebijakan Tarif AS
Kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan Presiden AS Donald Trump turut memperburuk kondisi industri. Tarif tersebut meningkatkan biaya produksi mesin pertanian yang sebagian besar berbahan baja dan aluminium, serta menggunakan komponen impor.
Pemerintah AS dilaporkan tengah mempertimbangkan tarif sebesar 25% untuk barang jadi impor yang mengandung baja dan aluminium. Sementara itu, produk yang sebagian besar berbahan logam tersebut, termasuk traktor dan combine, masih dikenakan tarif hingga 50%.
Produsen alat berat seperti John Deere memperkirakan kebijakan tarif akan menambah beban biaya hingga US$1,2 miliar pada 2026. Sebagian biaya ini bahkan belum sepenuhnya dibebankan kepada petani.
Perang Dagang Tekan Harga Komoditas
Selain meningkatkan biaya, perang dagang juga berdampak pada penurunan ekspor pertanian AS. China, sebagai salah satu pasar utama, dilaporkan absen dari pembelian kedelai AS selama beberapa bulan terakhir, yang menyebabkan harga komoditas turun dan stok meningkat.
Baca Juga: Boom AI Dorong Laba Samsung Electronics Melonjak, Tapi Dibayangi Risiko Perang
Ekonom Farm Credit Canada, Leigh Anderson, menilai kondisi ini membuat prospek keuntungan petani menjadi sangat tipis, bahkan berpotensi negatif. Akibatnya, banyak petani menunda pembelian alat baru dan memilih mempertahankan peralatan lama lebih lama dari biasanya.
Perubahan Pola Belanja Petani
Menurut AEM, pola belanja petani kini bergeser dari kebutuhan sekunder ke kebutuhan utama. Petani lebih fokus pada pembelian alat yang benar-benar diperlukan untuk operasional, bukan untuk peningkatan kapasitas.
Kip Eideberg dari AEM menilai pengurangan tarif menjadi solusi tercepat untuk meringankan beban industri. Ia menegaskan bahwa tarif yang tinggi tidak hanya membebani produsen, tetapi juga petani sebagai pengguna akhir.
Dengan tekanan biaya yang sulit diturunkan, pelaku industri berharap adanya relaksasi kebijakan perdagangan guna memulihkan daya beli petani dan mendorong kembali pertumbuhan sektor alat pertanian di Amerika Utara.













