kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.851   8,00   0,05%
  • IDX 8.204   -60,99   -0,74%
  • KOMPAS100 1.156   -11,71   -1,00%
  • LQ45 828   -11,16   -1,33%
  • ISSI 294   -1,60   -0,54%
  • IDX30 431   -4,38   -1,01%
  • IDXHIDIV20 516   -5,50   -1,06%
  • IDX80 129   -1,42   -1,09%
  • IDXV30 142   -0,82   -0,57%
  • IDXQ30 139   -1,92   -1,36%

Bitcoin Anjlok 50%, Apakah Masuk Krisis? Ini Penjelasan Analis


Senin, 09 Februari 2026 / 02:40 WIB
Bitcoin Anjlok 50%, Apakah Masuk Krisis? Ini Penjelasan Analis
ILUSTRASI. Harga Bitcoin terjun 50%, memicu kepanikan. Tapi veteran hedge fund Gary Bode punya pandangan berbeda. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: CoinDesk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Penurunan tajam harga Bitcoin, yang mencapai hampir 50% dari rekor tertingginya beberapa bulan lalu,  kembali memicu perdebatan soal stabilitas kripto. Namun, veteran hedge fund Gary Bode menilai aksi jual ini bukan tanda krisis besar, melainkan bagian dari karakter alami Bitcoin yang memang sangat volatil.

Melansir CoinDesk.com, dalam unggahan di X, Bode mengatakan penurunan harga terbaru memang tidak menyenangkan dan mengejutkan, tapi bukan hal baru dalam sejarah Bitcoin. Menurutnya, penurunan 80% hingga 90% pernah terjadi berkali-kali. 

“Mereka yang sanggup menahan volatilitas yang selalu bersifat sementara ini biasanya justru mendapatkan imbal hasil jangka panjang yang luar biasa,” ujarnya.

Bode menilai gejolak terbaru banyak dipicu oleh reaksi pasar terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Investor menafsirkan langkah ini sebagai sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish), yang berarti suku bunga bisa naik. Kondisi ini membuat aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin, emas, dan perak jadi kurang menarik. Selain itu, margin call pada posisi leverage memperparah penurunan karena memicu aksi jual paksa berantai.

Namun, Bode tidak sepakat dengan tafsir pasar tersebut. Ia menunjuk pernyataan Warsh yang justru mendukung suku bunga lebih rendah, serta pernyataan Presiden Trump yang menyebut Warsh menjanjikan fed funds rate yang lebih rendah. 

Baca Juga: Elon Musk Memperingatkan Amerika Serikat akan 1.000% Bangkrut

Ditambah dengan defisit anggaran AS yang masih sangat besar, Bode menilai kemampuan The Fed untuk benar-benar mengendalikan imbal hasil obligasi jangka panjang (Treasury) jadi terbatas. Padahal, yield ini sangat penting untuk biaya pinjaman korporasi dan KPR. 

“Saya pikir pasar keliru membaca situasi ini,” kata Bode, seraya menekankan bahwa persepsi pasar, bukan fundamental, yang mendorong banyak aksi jual.

Ia juga menilai penjelasan lain yang sering muncul tidak sepenuhnya tepat. Salah satunya teori bahwa “whales” (pemilik Bitcoin awal yang membeli atau menambang saat harga masih sangat murah) sedang melepas kepemilikan. 

Bode mengakui dompet besar memang aktif dan ada penjual besar, tetapi ia melihatnya lebih sebagai aksi ambil untung, bukan sinyal kelemahan jangka panjang. 

“Keahlian teknis para early adopter dan miner itu patut diapresiasi. Tapi penjualan mereka tidak otomatis memberi gambaran soal masa depan Bitcoin,” ujarnya.

Baca Juga: India Mulai Jauhi Minyak Rusia Demi Muluskan Pakta Dagang dengan AS

Bode juga menyoroti Strategy sebagai potensi sumber tekanan jangka pendek. Saham perusahaan itu turun setelah harga Bitcoin jatuh di bawah harga beli sebagian kepemilikannya, sehingga muncul kekhawatiran Michael Saylor bisa menjual. 

Menurut Bode, risiko ini nyata tapi terbatas. Ia membandingkannya dengan situasi ketika Warren Buffett membeli saham besar: investor senang dengan dukungan itu, tapi juga khawatir soal potensi penjualan di masa depan. Ia menegaskan, Bitcoin tetap akan bertahan, meski harga bisa turun sementara.

Faktor lain adalah meningkatnya “paper Bitcoin”,  instrumen keuangan seperti ETF dan derivatif yang melacak harga Bitcoin tanpa harus memiliki koin fisiknya. Instrumen ini memang menambah pasokan efektif untuk diperdagangkan, tetapi tidak mengubah batas maksimal Bitcoin yang tetap 21 juta koin. 

Menurut Bode, batas ini tetap menjadi jangkar penting bagi nilai jangka panjang. Ia membandingkannya dengan pasar perak, di mana perdagangan “kertas” awalnya bisa menekan harga, sampai permintaan fisik akhirnya mendorong harga naik.

Sebagian analis juga berpendapat kenaikan harga energi bisa merugikan penambangan Bitcoin dan menurunkan hash rate, yang berpotensi menekan harga jangka panjang. Bode menilai kekhawatiran ini berlebihan. Data historis menunjukkan penurunan harga Bitcoin tidak selalu diikuti penurunan hash rate, dan kalaupun terjadi, biasanya baru terasa beberapa bulan kemudian.

Ia juga menyinggung teknologi energi baru, seperti reaktor nuklir modular kecil dan pusat data AI bertenaga surya, yang berpotensi menyediakan listrik murah untuk penambangan di masa depan.

Tonton: Regulasi Tak Konsisten, Investor Pilih Thailand dan Vietnam Ketimbang Indonesia

Menanggapi kritik bahwa Bitcoin bukan “penyimpan nilai” (store of value), Bode menilai hampir semua aset juga memiliki risiko, termasuk mata uang fiat yang didukung oleh negara dengan utang besar. Ia menyindir, emas pun butuh energi untuk diamankan kecuali jika “Anda nyaman meninggalkannya di teras rumah.” 

Menurutnya, paper Bitcoin bisa memengaruhi harga jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang tetap hanya ada 21 juta Bitcoin. 

“Kalau Anda ingin memiliki Bitcoin, itu adalah aset yang sebenarnya. Bitcoin tidak butuh izin dan tidak mengharuskan Anda percaya pada pihak lawan transaksi,” katanya.

Kesimpulannya, Bode melihat penurunan terbaru ini sebagai konsekuensi alami dari desain Bitcoin. Volatilitas adalah bagian dari permainannya. Mereka yang mampu bertahan menghadapi gejolak ini, menurutnya, berpotensi mendapat imbalan dalam jangka panjang. 

Bagi investor, pelajaran utamanya: fluktuasi harga yang tajam tidak selalu berarti ada risiko sistemik besar.

Selanjutnya: Proyeksi Emas Pekan Kedua Februari: Faktor Ini Penentu Arah Harga


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×