Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026) dalam gelombang ketiga aksi bertajuk No Kings. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk deportasi imigran secara agresif, perang dengan Iran, serta sejumlah kebijakan lainnya.
Lebih dari 3.200 aksi direncanakan berlangsung di seluruh 50 negara bagian. Dua aksi sebelumnya diketahui telah menarik jutaan peserta, menunjukkan meningkatnya gelombang penolakan terhadap pemerintah.
Di negara bagian Minnesota, yang menjadi pusat kebijakan keras terhadap imigrasi ilegal, aksi besar digelar di depan gedung parlemen negara bagian di Saint Paul. Banyak demonstran membawa poster bergambar Renee Good dan Alex Pretti, yang tewas ditembak petugas imigrasi federal di Minneapolis tahun ini.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Makin Memanas, Pasca Houthi Mulai Serang Israel
Gubernur Minnesota Tim Walz yang juga kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat pada 2024, menyampaikan dukungannya kepada para demonstran. Ia menyebut perlawanan terhadap kebijakan Trump sebagai cerminan nilai-nilai terbaik Amerika.
Senator AS Bernie Sanders turut hadir dan berpidato, menyerukan penolakan terhadap otoritarianisme. Musisi Bruce Springsteen juga tampil membawakan lagu “Streets of Minneapolis” yang mengkritik kebijakan imigrasi Trump.
Aksi besar lainnya berlangsung di kota-kota seperti New York, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, dan Washington. Menurut penyelenggara, sekitar dua pertiga aksi justru terjadi di luar kota besar, menunjukkan peningkatan partisipasi di komunitas kecil.
Di New York, puluhan ribu orang memadati kawasan Manhattan. Aktor Robert De Niro yang menjadi salah satu penggerak aksi menyebut Trump sebagai ancaman besar terhadap kebebasan dan keamanan negara.
Di Washington, massa berkumpul di National Mall dengan membawa slogan pro-demokrasi dan poster anti-Trump. Bahkan di kawasan Chevy Chase, Maryland, kelompok lansia turut berpartisipasi dengan membawa pesan-pesan penolakan terhadap “tirani”.
Di Dallas, aksi sempat diwarnai bentrokan antara demonstran “No Kings” dan kelompok tandingan, termasuk yang dipimpin oleh Enrique Tarrio. Polisi setempat melakukan sejumlah penangkapan setelah terjadi kericuhan.
Kebijakan Trump disebut semakin memicu mobilisasi oposisi. Salah satu peserta aksi di Dallas menyatakan bahwa ia tidak bisa lagi diam melihat arah kebijakan pemerintah, terutama demi masa depan generasi berikutnya.
Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan publik terhadap Trump kini turun menjadi 36%, level terendah sejak ia kembali menjabat sebagai presiden.
Baca Juga: Berapa Orang yang Tewas dalam Perang AS-Israel Vs Iran? Jumlahnya Mengejutkan
Namun, pihak Partai Republik mengkritik aksi tersebut. Juru bicara Komite Kongres Nasional Partai Republik menyebut aksi itu sebagai wadah kelompok kiri ekstrem.
Menjelang pemilu paruh waktu di AS, penyelenggara menyebut terjadi lonjakan partisipasi, termasuk di negara bagian yang selama ini menjadi basis Partai Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah.
Gerakan No Kings sendiri dimulai pada 14 Juni tahun lalu dan berhasil menarik jutaan peserta dalam aksi-aksi sebelumnya.
Aksi terbaru ini juga dipicu oleh kemarahan terhadap perang Iran yang telah berlangsung selama empat minggu. Banyak demonstran menyerukan penghentian keterlibatan militer AS dalam konflik tersebut.
Salah satu peserta aksi di Washington menyebut perang tersebut sebagai “perang yang tidak perlu”, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak seharusnya terlibat dalam konflik tersebut.
Gelombang aksi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan politik domestik di AS, seiring berlanjutnya konflik luar negeri dan kebijakan dalam negeri yang kontroversial.













