kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Konflik Timur Tengah Makin Memanas, Pasca Houthi Mulai Serang Israel


Minggu, 29 Maret 2026 / 06:29 WIB
Konflik Timur Tengah Makin Memanas, Pasca Houthi Mulai Serang Israel
ILUSTRASI. Rudal Iran Menghantam Tel Aviv (REUTERS/Gideon Markowicz)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - KAIRO. Risiko perang Iran meningkat pada Sabtu (28/3/2026) setelah kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan pertama mereka ke Israel sejak konflik dimulai. Perkembangan ini terjadi di tengah kedatangan tambahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebelumnya menyatakan Washington berharap operasi militer dapat diselesaikan dalam beberapa pekan. Namun, pada saat yang sama, pengerahan pasukan Marinir AS ke wilayah tersebut terus berlangsung guna memberikan fleksibilitas strategi bagi Presiden Donald Trump.

Kelompok Houthi menegaskan akan melanjutkan serangan hingga agresi di seluruh front dihentikan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, menjelang pertemuan diplomatik yang melibatkan Turki dan Arab Saudi guna meredakan ketegangan kawasan. Meski demikian, belum ada tanda-tanda terobosan diplomatik dalam waktu dekat.

Baca Juga: Berapa Orang yang Tewas dalam Perang AS-Israel Vs Iran? Jumlahnya Mengejutkan

Konflik yang dimulai sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tersebut kini telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, menewaskan ribuan orang dan memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global.

Amerika Serikat telah mengirim ribuan Marinir ke Timur Tengah, dengan gelombang pertama tiba menggunakan kapal serbu amfibi pada Jumat (27/3/2026). Selain itu, Pentagon juga diperkirakan akan mengerahkan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Di sisi lain, Israel melancarkan serangan besar ke Teheran dengan menargetkan infrastruktur pemerintah Iran. Israel juga menyerang Lebanon dalam konflik melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tiga jurnalis Lebanon dan seorang tentara, serta korban tambahan dari tim penyelamat yang datang membantu.

Militer Israel mengklaim salah satu jurnalis yang tewas merupakan bagian dari unit intelijen Hizbullah, tuduhan yang dibantah pihak terkait.

Iran terus melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah negara Teluk. Sebelumnya, Iran menyerang pangkalan udara di Arab Saudi dan melukai 12 personel militer AS, dua di antaranya dalam kondisi serius.

Serangan drone juga dilaporkan terjadi di wilayah Kurdistan Irak, termasuk di dekat kediaman pemimpin politik Masoud Barzani.

Israel mengonfirmasi adanya rudal yang ditembakkan dari Yaman, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan. Serangan ini menandai potensi ancaman baru terhadap pelayaran global, yang sebelumnya sudah terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

Kelompok Houthi menyatakan telah melancarkan dua serangan dalam waktu kurang dari 24 jam dan berjanji akan melanjutkan aksi mereka. Mereka dikenal memiliki kemampuan menyerang target jarak jauh serta mengganggu jalur pelayaran di Semenanjung Arab dan Laut Merah.

Perang yang berkepanjangan mulai berdampak pada politik domestik AS menjelang pemilu paruh waktu November. Popularitas Presiden Trump dilaporkan tertekan, dengan demonstrasi anti-perang terjadi di berbagai kota di Amerika Serikat.

Pasar keuangan global juga bereaksi negatif terhadap potensi konflik berkepanjangan. Harga minyak mentah Brent tercatat telah naik lebih dari 50% sejak perang dimulai.

Trump sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz, namun ia memberikan tambahan waktu 10 hari bagi Iran untuk merespons.

Sementara itu, Iran mengizinkan sejumlah kapal berbendera Pakistan dan India melintasi selat tersebut dengan jaminan keamanan terbatas.

Baca Juga: Pasar Saham Global Tertekan, Saat Harga Minyak dan Emas Sama-sama Naik

Israel terus menargetkan fasilitas nuklir Iran. Perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, bahkan telah mengevakuasi staf dari pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr karena kekhawatiran keselamatan.

Presiden Pezeshkian menegaskan Iran akan “membalas dengan keras” jika infrastruktur atau pusat ekonomi mereka diserang.

Serangan Iran dilaporkan terjadi di beberapa negara Teluk seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Oman. Di Israel, serangan udara Iran menghantam desa Eshtaol dekat Yerusalem dan menyebabkan tujuh orang dirawat di rumah sakit.

Di Iran sendiri, media melaporkan sedikitnya lima orang tewas akibat serangan AS-Israel di kota Zanjan, serta serangan terhadap Universitas Sains dan Teknologi Iran di Teheran.

Konflik yang terus meluas ini meningkatkan kekhawatiran global akan stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi dunia.




TERBARU

[X]
×