kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Serangan Houthi ke Israel Picu Risiko Perluasan Perang Iran, AS Tambah Pasukan


Minggu, 29 Maret 2026 / 14:27 WIB
Serangan Houthi ke Israel Picu Risiko Perluasan Perang Iran, AS Tambah Pasukan
ILUSTRASI. Serangan Houthi ke Israel membuka front baru konflik. Cari tahu bagaimana ini bisa mengancam jalur pelayaran global dan pasokan energi dunia. (Reuters/Houthi Military Media)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko meluasnya konflik antara Iran dan sekutunya kian meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Teheran, meluncurkan serangan pertama ke Israel sejak perang dimulai. Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan kedatangan tambahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah.

Militer AS mengonfirmasi bahwa ribuan marinir telah dikerahkan dalam konflik yang kini memasuki bulan kedua. Gelombang pertama pasukan tiba menggunakan kapal serbu amfibi pada Jumat, sebagai bagian dari penguatan kehadiran militer di kawasan.

Laporan The Washington Post menyebut Pentagon tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran, termasuk pengerahan pasukan khusus dan infanteri konvensional. Namun, keputusan akhir masih bergantung pada Presiden AS Donald Trump.

Konflik Meluas dan Korban Meningkat

Sejak dimulai pada 28 Februari melalui serangan AS-Israel ke Iran, perang telah menyebar ke berbagai wilayah Timur Tengah, menewaskan ribuan orang serta memicu gangguan besar pada pasokan energi global.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa tujuan militer AS sebenarnya dapat dicapai tanpa operasi darat. Namun, pengerahan pasukan dilakukan untuk memberi fleksibilitas maksimal dalam menentukan strategi.

Pentagon juga dikabarkan akan mengirim ribuan tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS.

Baca Juga: Produksi Gas di Australia Terhenti Efek Badai Narelle, Warga Masih Tanpa Listrik

Upaya Diplomasi dan Peran Pakistan

Di tengah eskalasi konflik, Pakistan berupaya mengambil peran sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Negara tersebut menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir untuk meredakan ketegangan regional.

Langkah ini dilakukan sehari setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan komunikasi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Serangan ke Infrastruktur dan Jurnalis

Militer Israel menyatakan telah menyerang infrastruktur produksi senjata di Teheran, termasuk puluhan lokasi penyimpanan dan fasilitas produksi. Media Iran melaporkan sedikitnya lima orang tewas dalam serangan di pelabuhan Bandar-e-Khamir yang juga menghancurkan dua kapal.

Di Lebanon, Israel kembali menyerang target yang terkait dengan kelompok Hezbollah. Serangan tersebut menewaskan tiga jurnalis Lebanon dan seorang tentara, serta korban tambahan dari tim penyelamat yang diserang dalam serangan lanjutan.

Ancaman Baru terhadap Jalur Pelayaran Global

Serangan Houthi dinilai membuka front baru dalam konflik dan berpotensi mengancam jalur pelayaran global. Sebelumnya, gangguan sudah terjadi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Kelompok Houthi juga memiliki kemampuan untuk menyerang wilayah jauh di luar Yaman, termasuk jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah. Salah satu titik rawan berikutnya adalah Selat Bab el-Mandeb, jalur penting menuju Terusan Suez.

Jika eskalasi berlanjut, gangguan terhadap perdagangan global diperkirakan semakin parah.

Tekanan Politik dan Dampak Global

Di dalam negeri AS, konflik ini mulai menimbulkan tekanan politik terhadap Trump, terutama menjelang pemilu paruh waktu November. Demonstrasi anti-perang terjadi di berbagai kota di AS, menuntut penghentian konflik dengan Iran.

Baca Juga: Ribuan Warga AS Turun ke Jalan, Protes Kebijakan Trump dengan Tajuk No Kings

Trump sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tenggat waktu tersebut kini diperpanjang 10 hari.

Sementara itu, Iran tetap mempertahankan ancamannya terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut, meskipun telah memberikan izin terbatas bagi kapal berbendera Pakistan untuk melintas.

Risiko terhadap Keamanan Nuklir

Serangan Israel terhadap infrastruktur nuklir Iran juga memicu kekhawatiran global. Kepala perusahaan nuklir Rusia Rosatom menyatakan bahwa serangan tersebut berpotensi mengancam keselamatan nuklir, terutama setelah evakuasi staf dari pembangkit listrik Bushehr.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons keras jika infrastruktur ekonomi dan energi menjadi target serangan.

Dengan eskalasi yang terus berkembang, konflik ini berpotensi menjadi krisis geopolitik besar yang berdampak luas terhadap stabilitas global, terutama di sektor energi dan keamanan internasional.




TERBARU

[X]
×