kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45672,14   1,07   0.16%
  • EMAS916.000 -1,08%
  • RD.SAHAM 0.54%
  • RD.CAMPURAN 0.26%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Demi dongkrak produksi masker corona, AS gunakan Undang-Undang Pertahanan


Sabtu, 29 Februari 2020 / 07:29 WIB
Demi dongkrak produksi masker corona, AS gunakan Undang-Undang Pertahanan
ILUSTRASI. Orang-orang memakai masker berjalan di Chinatown, San Francisco, California, AS, 25 Februari 2020.

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) akan menggunakan aturan pertahanan federal untuk meningkatkan produksi masker, sarung tangan, pakaian, dan barang-barang peindung lainnya terhadap virus corona baru.

Negeri uak Sam, Jumat (27/2), melaporkan kasus baru Covid-19 di Santa Clara, California, rumah dari pusat teknologi Silicon Valley. Pada saat yang sama, lebih banyak negara melaporkan infeksi baru dan membatasi perjalanan.

"Kami akan menggunakan Undang-Undang Produksi Pertahanan seperlunya untuk memungkinkan kontrak kami menuju garis depan," kata Menteri Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan AS Alex Azar dalam briefing di Gedung Putih, Jumat. 

Baca Juga: WHO naikkan status wabah virus corona ke level siaga tertinggi, apa artinya?

"Itu adalah otoritas yang kami miliki, dan kami akan menggunakannya untuk memperoleh apa pun yang kami butuhkan untuk memperoleh (barang-barang pelindung diri dari virus corona baru)," ujar Azar seperti dikutip Reuters.

Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Kamis (27/2), Pemerintahan Donald Trump sedang mempertimbangkan menggunakan kekuatan khusus melalui undang-undang untuk secara cepat meningkatkan produksi bahan-bahan utama untuk keamanan nasional atau alasan lain.

Jumlah kasus virus corona baru yang terkonfirmasi di AS memang masih relatif kecil, sekitar 60 orang. Sebagian besar dari mereka adalah penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Jepang dan sudah kembali ke AS. 

Baca Juga: Wabah virus corona parah, rumahsakit di Italia hadapi krisis serius



TERBARU

[X]
×