kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Demi tarik investor, Malaysia pangkas tarif PPh jadi 10%


Selasa, 08 Oktober 2019 / 15:59 WIB

Demi tarik investor, Malaysia pangkas tarif PPh jadi 10%
ILUSTRASI. Bendera Malaysia

KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Malaysia akan memberikan insentif pajak penghasilan (PPh) bagi perusahaan yang menggunakan negaranya sebagai basis untuk melakukan bisnis regional atau global mereka.

"Efektif tahun ini, perusahaan yang memenuhi syarat untuk insentif Principal Hub (PH) dari pemerintah akan bisa menikmati tarif pajak 10% untuk operasi mereka, alih-alih tarif pajak 24%," kata Otoritas Pengembangan Investasi Malaysia (MIDA) dalam pernyataan Selasa (8/10) seperti dikutip Reuters.

Menurut seorang pejabat MIDA, perusahaan yang sudah beroperasi di Malaysia dan memenuhi syarat untuk insentif PH bisa memperoleh tarif pajak 10% atas pendapatan yang mereka hasilkan selama setahun.

Baca Juga: Manfaatkan perang dagang, Indonesia satu-satunya yang kalah melawan negara Asia lain

Sedang perusahaan yang belum berinvestasi di Malaysia bisa mengajukan tarif pajak 0% dan 5% selama 10 tahun berdasarkan investasi dan komitmen penciptaan lapangan kerja mereka. Sebelumnya, tarif pajak untuk perusahaan tersebut adalah 0%, 5%, dan 10%.

"Peningkatan insentif pajak PH ini tepat waktu karena Malaysia terus berinovasi dalam kebijakan dan strateginya untuk menarik investasi sehingga negara akan sangat terintegrasi ke dalam kawasan serta pasar lain," sebut MIDA.

"Pemberian insentif PH ini bertujuan untuk menjadikan Malaysia kompetitif dengan negara-negara lain di kawasan ini sebagai pusat kantorĀ  yang optimal di Asia Pasifik," tambah MIDA.

Baca Juga: Tidak hanya China, perusahaan Jepang dan Korea juga enggan lirik Indonesia

Malaysia memperkenalkan insentif PH pertama kali pada 2015 dan telah membantu negeri jiran menarik perusahaan lokal dan multinasional untuk membangun hub mereka di negara itu.

Bersama dengan Vietnam dan Thailand, Malaysia menjadi salah satu penerima manfaat utama dari perusahaan-perusahaan yang memindahkan sebagian produksinya dari China untuk menghindari tarif impor Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi.


Reporter: SS. Kurniawan
Editor: S.S. Kurniawan

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×