kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.537.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.143   -31,00   -0,17%
  • IDX 4.876   -28,16   -0,57%
  • KOMPAS100 625   -4,22   -0,67%
  • LQ45 497   -0,18   -0,04%
  • ISSI 162   -1,79   -1,09%
  • IDX30 281   0,40   0,14%
  • IDXHIDIV20 379   1,27   0,34%
  • IDX80 72   -0,39   -0,54%
  • IDXV30 105   -0,20   -0,19%
  • IDXQ30 94   0,46   0,49%

Demokrat Berpeluang Kuasai Kongres AS, Saham AI Terancam Tertekan?


Rabu, 04 November 2026 / 08:52 WIB
Demokrat Berpeluang Kuasai Kongres AS, Saham AI Terancam Tertekan?
ILUSTRASI. Pemilu AS (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Investor global mencermati hasil pemilihan paruh waktu atau midterm elections Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mengubah peta kekuasaan di Kongres.

Kemenangan Partai Demokrat diperkirakan dapat memengaruhi arah kebijakan fiskal, regulasi industri teknologi, hingga investasi pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Dalam pemilu yang berlangsung Selasa (3/11/2026) waktu setempat, Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump sebelumnya menguasai dua kamar Kongres selama dua tahun pertama masa jabatan keduanya.

Baca Juga: Harga Kopi di AS Melonjak 91% Sejak 2020, Harry Styles Ikut Mengeluh

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat berpeluang merebut mayoritas kursi di House of Representatives atau DPR AS. Sementara itu, persaingan untuk menguasai Senat masih berlangsung ketat.

Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise menilai, kemenangan Demokrat dengan mayoritas besar di DPR dan Senat berpotensi memberikan tekanan terhadap saham-saham teknologi.

Menurut dia, hasil pemilu dapat berdampak pada sejumlah sektor yang sensitif terhadap kebijakan pemerintah, termasuk pembangunan pusat data AI, prospek fiskal AS, belanja pertahanan, serta regulasi industri kesehatan, perbankan, dan mata uang kripto.

Pada Selasa malam waktu AS, kontrak berjangka indeks saham bergerak melemah. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,7%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 1,4%.

Steve Sosnick, Market Strategist Interactive Brokers mengatakan, pelemahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan masuknya hasil awal pemilu dan meningkatnya peluang Demokrat menguasai Senat sekaligus DPR.

Pasar juga mencermati potensi meningkatnya pengawasan terhadap perusahaan teknologi apabila Demokrat menguasai Kongres.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pembangunan pusat data AI, yang belakangan menghadapi penolakan sebagian masyarakat karena dampak terhadap lingkungan dan kebutuhan infrastruktur.

Meski peluang lahirnya regulasi yang secara signifikan menghambat pembangunan pusat data dinilai terbatas, kemenangan Demokrat berpotensi mendorong penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi.

Baca Juga: Bank Sentral Kerek Suku Bunga Tertinggi dalam 18 Tahun, Bursa Australia Berguguran

Investor cermati dampak ke investasi AI

Selain hasil pemilihan anggota Kongres, investor turut memantau pemilihan gubernur dan pejabat daerah di sejumlah negara bagian, termasuk Texas.

Hasil pemilihan di tingkat negara bagian dinilai dapat memengaruhi kebijakan lokal terkait pembangunan pusat data dan investasi AI.

Chuck Carlson, Chief Executive Officer Horizon Investment Services, mengatakan perdagangan saham berbasis AI memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar. Karena itu, hasil pemilu berpotensi memberikan dampak langsung terhadap sektor tersebut.

Risiko lain yang menjadi perhatian investor adalah potensi kebuntuan politik atau legislative gridlock apabila Demokrat berhasil menguasai DPR atau kedua kamar Kongres. Kondisi tersebut dapat mempersulit pembahasan anggaran dan negosiasi fiskal pemerintah AS.

Baca Juga: Pengangguran Selandia Baru Tembus 5,7%, Tertinggi dalam 11 Tahun

Alex Morris, pendiri F/m Investments menilai, perhatian investor terhadap persoalan fiskal berpotensi meningkat dalam beberapa pekan mendatang.

Menurut dia, isu disiplin anggaran belum menjadi fokus utama para kandidat dalam kampanye pemilu kali ini.

Meski demikian, Deutsche Bank mencatat bahwa dalam 20 periode pemilu paruh waktu sejak 1946, indeks S&P 500 selalu mencatat kenaikan dalam 12 bulan setelah hari pemungutan suara. Rata-rata kenaikannya mencapai 14,4%.

Namun, kondisi pasar tahun ini memiliki tantangan tersendiri. Investor sebelumnya cenderung mengabaikan kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi karena optimisme terhadap pertumbuhan laba perusahaan yang didorong AI.

Belakangan, gejolak saham teknologi dan saham-saham momentum mulai menguji optimisme tersebut.

Seth Hickle, Chief Investment Officer Mindset Wealth Management memperkirakan, volatilitas pasar masih akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan, terlepas dari hasil pemilu.

Baca Juga: Kebocoran Data Amadeus Meluas, 46.000 Pemesanan Singapore Airlines Terdampak


Video Terkait



TERBARU

[X]
×