kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45769,82   10,44   1.37%
  • EMAS915.000 -0,44%
  • RD.SAHAM -0.01%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.03%

Dikritik Trump karena terlalu fokus ke China, ini pembelaan bos WHO


Kamis, 09 April 2020 / 04:35 WIB
Dikritik Trump karena terlalu fokus ke China, ini pembelaan bos WHO
ILUSTRASI. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. REUTERS/Denis Balibouse/File Photo

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Di New York, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada hari Rabu bahwa sekarang bukan saatnya untuk menilai respon global terhadap pandemi, sebaliknya meminta masyarakat internasional untuk fokus bekerja dalam solidaritas untuk menghentikan virus.

Tedros mengatakan organisasinya di AS akan melakukan penilaian kinerja seperti biasa setelah keadaan darurat dan menarik pelajaran tentang kekuatan dan kelemahannya. "Kami membuat kesalahan seperti manusia lainnya," jelasnya.

Baca Juga: Kritik Xi Jinping soal penanganan corona, miliarder China ditahan aparat

Dia juga menambahkan, “Tolong, bersatu di tingkat nasional, tidak menggunakan COVID untuk poin-poin politik. Kedua, solidaritas jujur ​​di tingkat global. Dan kepemimpinan yang jujur ​​dari AS dan China."

“Yang paling kuat harus memimpin dan silakan mengkarantina politik COVID,” tambahnya, merujuk pada COVID-19, penyakit yang sangat menular, terkadang mematikan yang disebabkan oleh virus corona baru.

Tedros mengatakan bahwa China dan Amerika Serikat harus mengikuti contoh dari bekas Uni Soviet dan Amerika Serikat yang meluncurkan kampanye global 10 tahun pada tahun 1967 yang memberantas cacar, penyakit yang kemudian menewaskan 2 juta orang setiap tahun.

Baca Juga: WHO: Korut lakukan tes dan karantina COVID-19, hasilnya masih nol kasus

Tedros menolak "penghinaan rasis" terhadapnya, yang katanya berasal dari Taiwan, dan mengungkapkan bahwa ia juga menerima ancaman kematian selama krisis.

"Kami kehilangan orang, mengapa saya peduli diserang ketika orang sedang sekarat?" katanya, seraya menambahkan sudah ada 60.000 kantong mayat setelah lebih dari 1,3 juta infeksi di seluruh dunia.

"Kami akan memiliki banyak kantong mayat ke depan jika kami tidak bersikap," tambahnya.




TERBARU

[X]
×