kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.185   32,00   0,18%
  • IDX 4.907   -189,77   -3,72%
  • KOMPAS100 629   -27,75   -4,22%
  • LQ45 498   -20,36   -3,93%
  • ISSI 164   -6,45   -3,79%
  • IDX30 280   -10,96   -3,76%
  • IDXHIDIV20 378   -13,82   -3,53%
  • IDX80 73   -3,14   -4,13%
  • IDXV30 105   -3,78   -3,47%
  • IDXQ30 94   -3,49   -3,58%

Dituding AS Jadi Dalang Pembobolan Binance, Korea Utara: Tidak Masuk Akal!


Selasa, 03 November 2026 / 15:12 WIB
Dituding AS Jadi Dalang Pembobolan Binance, Korea Utara: Tidak Masuk Akal!
ILUSTRASI. Bursa kripto terbesar di dunia, Binance (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - SEOUL/SINGAPURA. Korea Utara menepis tuduhan Amerika Serikat (AS) yang menyebut mereka berada di balik pencurian mata uang kripto senilai US$ 6,3 miliar di platform Binance.

Korea Utara menyebut tuduhan itu sebagai retorika yang tidak masuk akal.

Binance yang merupakan bursa mata uang kripto terbesar di dunia, kini membuka akses penarikan untuk lebih banyak aset bagi para nasabahnya yang merasa khawatir.

Binance, yang mencatat arus keluar bersih sebesar US$ 4,72 miliar hingga Senin (2/11/2026), setelah mengalami insiden yang mungkin menjadi pencurian finansial terbesar sepanjang sejarah pekan lalu, kini meluncurkan kampanye untuk menahan arus keluar dana sekaligus menarik pengguna baru.

Dalam sebuah unggahan di platform X pada Selasa (3/11/2026), Binance menyatakan jumlah setoran per jam kini melebihi jumlah penarikan. Hal ini mencerminkan aktivitas pengguna yang membaik dan arus dana yang mulai stabil.

Baca Juga: Masalah Keamanan, Piala Asia di Arab Saudi Ditunda Jadi Desember 2027

Pada akhir pekan lalu, FBI menyatakan bahwa Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset kripto senilai lebih dari US$ 6 miliar—sebuah kejahatan yang mengguncang industri tersebut.

Menurut laporan kantor berita pemerintah KCNA pada hari Selasa, Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar, mengatakan bahwa tuduhan AS membuktikan Washington tetap bersikap bermusuhan terhadap Pyongyang.

Korea Utara sejauh ini belum menanggapi tawaran Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan diplomasi tingkat tinggi. Menyusul tuduhan dari pihak AS tersebut, Kim Yo Jong menyatakan, Korea Utara memiliki hal-hal yang perlu dipertimbangkan kembali terkait apa yang ia sebut sebagai sikap permusuhan dari AS.

"FBI berupaya melabeli Korea Utara sebagai negara kriminal siber, dengan mengeklaim telah memperoleh informasi bahwa sebuah organisasi peretas yang didukung oleh Korea Utara terlibat dalam insiden tersebut," demikian kutipan pernyataan Kim Yo Jong sebagaimana diberitakan oleh KCNA yang dikutip Reuters.

"Namun, pernyataan AS tersebut hanyalah retorika yang tidak masuk akal dan bukan hal baru," ujar Kim, seorang pejabat partai yang berkuasa. 

Sumber Pendapatan

Korea Utara menghadapi pengawasan yang kian ketat terkait pencurian mata uang kripto, yang menurut para analis merupakan sumber dana utama bagi program persenjataannya.

Para pakar keamanan siber menyebutkan, peretas asal Korea Utara termasuk pencuri mata uang kripto yang paling aktif di dunia. Hasil curian tersebut membantu mendanai upaya negara itu dalam mengembangkan senjata nuklir serta rudal balistik yang mampu menjangkau Amerika Serikat.

Menurut estimasi perusahaan analisis blockchain Elliptic, Korea Utara telah mencuri mata uang kripto senilai US$ 7,6 miliar tahun ini—jumlah yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Korea Utara membantah tuduhan yang mengaitkannya dengan pencurian mata uang kripto maupun kejahatan siber lainnya.

Baca Juga: Binance Dibobol US$ 6,3 Miliar, Picu Kekhawatiran Investor Kripto

Para analis di Seoul berpendapat, respons Korea Utara yang tergolong sangat cepat kemungkinan mencerminkan kekhawatiran bahwa tuduhan tersebut dapat memicu upaya yang lebih ketat untuk mengganggu aliran pendapatan yang, menurut berbagai tuduhan, digunakan Korea Utara untuk membiayai persenjataannya.

"Di tengah sanksi yang sudah berlaku, pencurian mata uang kripto telah menjadi salah satu saluran utama bagi Korea Utara untuk memperoleh dana guna mempertahankan rezim dan mengembangkan senjata," kata Lim Eul-chul, seorang profesor di Institut Studi Timur Jauh, Universitas Kyungnam.

Lim menambahkan, langkah-langkah tambahan dari AS yang menyasar dompet kripto, jaringan pencucian uang, dan bursa mata uang kripto dapat memutus sumber pendapatan penting bagi negara tersebut.

Bank sentral Korea Selatan mengestimasi produk domestik bruto (PDB) Korea Utara sebesar 47,18 triliun won (US$ 35,09 miliar) pada tahun 2025. Ini berarti nilai pencurian yang dikaitkan dengan insiden Binance tersebut setara dengan sekitar seperenam dari total output ekonomi negara itu

. Perusahaan analitik blockchain, Chainalysis, memperkirakan, 89% dari kerugian akibat peretasan kripto pada tahun 2026 terkait dengan Korea Utara, meningkat dari 15% pada tahun 2021. Perusahaan tersebut menyatakan, rata-rata kerugian yang dilaporkan per peretasan naik dari $50,65 juta pada tahun 2021 menjadi $185,65 juta pada tahun 2026.

"Bisa dibilang ini seperti perburuan mangsa besar; mereka menargetkan bursa-bursa kripto berskala lebih besar yang mungkin memerlukan waktu lebih lama dan proses yang lebih rumit untuk diretas... namun imbalannya bisa sangat besar," ujar Alec Zebrick, manajer senior untuk Layanan Global wilayah Asia-Pasifik di Chainalysis.

Korea Utara merupakan salah satu negara termiskin di dunia, namun telah mengalokasikan sumber daya—yang diperoleh melalui cara-cara ilegal dan kegiatan yang dilarang oleh resolusi Dewan Keamanan PBB—ke dalam program rudal dan nuklirnya.

Penarikan Dana di Binance

Pada hari Senin, Binance meluncurkan sebuah kampanye yang menawarkan potongan biaya dan imbalan bagi pengguna yang memenuhi syarat. Yakni, mereka yang mencatatkan volume perdagangan kumulatif setidaknya US$ 10.000, serta tingkat persentase tahunan (APR) hingga 10% untuk produk-produk tertentu yang menghasilkan imbal hasil.

Berdasarkan informasi di situs webnya, bursa tersebut akan menjalankan "kampanye apresiasi komunitas" hingga 21 November.

Baca Juga: Binance Hadapi Penarikan Dana US$ 3,64 Miliar Usai Peretasan Kripto US$ 6,3 Miliar

Binance, yang sempat membekukan penarikan selama lebih dari dua hari pasca-peretasan, mulai mengizinkan nasabah untuk melakukan penarikan kembali pada Minggu pagi untuk aset-aset tertentu, kemudian memperluas akses penarikan ke lebih banyak aset pada hari Selasa.

Sejak penarikan dibuka kembali, Binance mencatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar 3% dari total aset di platformnya. Angka ini tergolong moderat, yang menurut para analis menunjukkan bahwa kepercayaan nasabah secara umum tetap terjaga.

"Reaksi harga yang relatif terkendali menunjukkan tingkat kedewasaan dan ketahanan," ujar Maksym Repa, kepala DeFi di Lombard, sebuah protokol keuangan Bitcoin yang didukung oleh Franklin Templeton.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×