Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – TOKYO. Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026) seiring pelaku pasar menantikan data inflasi terbaru AS dan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Di tengah ketidakpastian tersebut, para pejabat keuangan global juga mendesak pemerintah untuk memperkuat disiplin fiskal dan mengendalikan peningkatan utang.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun 0,09% menjadi 102,09. Pelemahan ini melanjutkan penurunan sebesar 0,35% pada perdagangan Selasa (13/10/2026).
Sementara itu, euro menguat 0,09% menjadi US$ 1,1208. Yen Jepang naik 0,08% ke level 158,19 per dolar AS, sedangkan pound sterling menguat 0,15% menjadi US$ 1,3272.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk September serta sejumlah pidato pejabat bank sentral AS. Kedua agenda tersebut dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kemungkinan perubahan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Serangan Kapal di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan
Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, mengatakan terdapat risiko inflasi inti AS melampaui perkiraan pasar.
"Risikonya adalah inflasi CPI inti secara mengejutkan lebih tinggi dari perkiraan karena kuatnya permintaan konsumen dan meningkatnya biaya, sehingga mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober serta menguatkan dolar AS," kata Kong dalam sebuah catatan.
Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis data CPI September. Inflasi bulanan diperkirakan meningkat 0,6%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,6% dari 3,4%.
The Fed juga akan menerbitkan Beige Book, laporan yang merangkum kondisi ekonomi berdasarkan informasi dari berbagai wilayah di AS.
Bansi Madhavani, ekonom senior ANZ, menilai tekanan terhadap inflasi utama masih cenderung mengarah ke atas.
"Risiko terhadap inflasi utama lebih condong ke arah kenaikan," ujar Madhavani dalam sebuah podcast.
"Karena itu, kami tetap berpandangan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dalam beberapa bulan mendatang," tambahnya.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Sebelumnya, dolar AS melemah setelah pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Gubernur The Fed Christopher Waller ditafsirkan pasar sebagai sinyal kebijakan moneter yang lebih lunak.
Baca Juga: Trump Sebut Eksplorasi Besar-besaran Minyak dan Gas di Greenland Segera Dimulai
Pejabat The Fed Thomas Barkin dan Michelle Bowman dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu. Pernyataan mereka akan dicermati investor untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 77% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pada 27–28 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan probabilitas 51% sebulan sebelumnya.
Meski demikian, pasar masih memperhitungkan pengetatan kebijakan moneter kumulatif sekitar 75 basis poin hingga akhir 2027.
IMF Desak Pemerintah Kendalikan Utang
Di Bangkok, Thailand, para pejabat keuangan dunia berkumpul dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Agenda tersebut turut menyoroti meningkatnya risiko fiskal dan perlunya langkah untuk menjaga keberlanjutan utang pemerintah.
Kepala Urusan Fiskal IMF Rodrigo Valdes mengatakan lembaganya semakin menekankan urgensi bagi pemerintah untuk menahan pertumbuhan utang.
Sementara itu, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan Amerika Serikat perlu melakukan penyesuaian fiskal agar posisi utangnya berada pada jalur yang lebih berkelanjutan.
Tekanan fiskal juga menjadi perhatian di Eropa, terutama Prancis. Obligasi pemerintah Prancis menjadi salah satu instrumen yang paling terdampak aksi jual global baru-baru ini. Investor khawatir persaingan politik menjelang pemilihan presiden tahun depan dapat menghambat upaya pemerintah mengurangi defisit anggaran yang tinggi.
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan Prancis harus menyelesaikan persoalan utangnya melalui konsolidasi fiskal. Pernyataan tersebut meredam spekulasi bahwa ECB akan mulai membeli obligasi pemerintah Prancis untuk menopang pasar surat utang negara tersebut.
Baca Juga: Jembatan Baru China-Korea Utara Dibuka, Perdagangan Kedua Negara Berpotensi Meningkat
Dalam perkembangan lain, Financial Times melaporkan Menteri Keuangan Inggris John Healey diperkirakan akan membiayai seluruh kebijakan pemberian manfaat baru dalam anggaran bulan ini melalui kenaikan pajak atau pemangkasan belanja, bukan dengan menambah pinjaman.
Meski demikian, seorang pejabat senior IMF mengatakan lembaga tersebut tidak merekomendasikan Inggris mempercepat konsolidasi fiskal.
Dolar Australia Menguat, Ekspor China Melonjak
Pergerakan mata uang di kawasan Asia Pasifik turut dipengaruhi data perdagangan China yang lebih kuat dari perkiraan.
Data yang dirilis pada Rabu menunjukkan ekspor China melonjak 36,3% secara tahunan pada September 2026. Kenaikan tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar. Pada periode yang sama, impor China tumbuh 31%.
Data perdagangan tersebut turut mendukung penguatan dolar Australia. Mata uang Negeri Kanguru itu naik 0,3% terhadap dolar AS menjadi US$ 0,7001. Dolar Selandia Baru atau kiwi juga menguat 0,29% ke level US$ 0,5625.
Di pasar aset kripto, Bitcoin naik 0,41% menjadi US$ 83.690,94. Sementara itu, Ether menguat 0,18% menjadi US$ 2.513,69.














