kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   4.000   0,16%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Dolar AS Melemah, Pasar Mulai Ragu The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga


Jumat, 16 Oktober 2026 / 22:46 WIB
Dolar AS Melemah, Pasar Mulai Ragu The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat (16/10/2026) dan menuju penurunan mingguan pertama dalam lebih dari sebulan terhadap euro dan yen. Pelemahan ini terjadi di tengah meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta kekhawatiran berkelanjutan akibat aksi jual saham yang dipicu sektor kecerdasan buatan (AI).

Data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan sempat mengguncang pasar pada pekan ini. Namun, pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan tidak adanya urgensi untuk kembali memperketat kebijakan moneter membantu menstabilkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mengurangi daya tarik dolar.

Saham-saham AI mengalami tekanan tajam sepanjang pekan ini. Tekanan tersebut turut merembet ke sejumlah segmen pasar kredit ketika investor yang telah menumpuk investasi di berbagai rantai pasok AI mulai mengkhawatirkan kemampuan operator pusat data untuk menghasilkan keuntungan sebelum jatuh tempo pembayaran utang mereka.

Baca Juga: KFC Ganti Pepsi dengan Coca-Cola Setelah Bermitra Selama Empat Dekade

"Sejak pertengahan Juni, dengan sikap hawkish Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), suku bunga menjadi penggerak dolar. Kini, kekhawatiran mengenai keberlanjutan bisnis AI tampaknya mengimbangi faktor tersebut," kata Marc Chandler, kepala strategi pasar Bannockburn Capital Markets di New York.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,42% menjadi 101,61. Indeks tersebut berada di jalur penurunan mingguan sebesar 0,6%.

Pound sterling dan franc Swiss menjadi mata uang dengan penguatan terbesar terhadap dolar sepanjang pekan ini. Franc Swiss mendapat dukungan dari permintaan aset lindung nilai (safe haven) serta ekspektasi bahwa Swiss kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga acuannya di bawah level nol saat ini, meskipun suku bunga global bergerak lebih rendah.

Pound sterling naik 0,60% ke US$ 1,3353 dan menguat 0,92% sepanjang pekan. Sementara itu, dolar melemah 0,48% terhadap franc Swiss menjadi 0,8228, sehingga mencatatkan penurunan mingguan sebesar 0,92%. Franc Swiss telah menguat lebih dari 1,4% dalam dua sesi perdagangan terakhir.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 85% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir bulan ini.

Baca Juga: 130 Juta Nama Pemilih Dihapus, Demonstrasi Guncang India dan Aktivis Ditangkap

"Saya tidak melihat dukungan yang cukup di dalam komite, terutama dari para gubernur, untuk menaikkan suku bunga pada Oktober. Namun, keputusan pada Desember masih menjadi pertanyaan terbuka, dan masih banyak hal yang bisa terjadi antara sekarang dan saat itu," kata John Velis, ahli strategi makro Amerika di BNY, New York.

Risiko fiskal di Prancis masih membayangi pasar setelah premi risiko utang negara tersebut melonjak pada awal Oktober.

Euro naik 0,33% menjadi US$ 1,1255 setelah menguat 0,56% pada Kamis (15/10/2026). Kenaikan harian tersebut merupakan yang terbesar dalam dua bulan terakhir dan membawa euro menuju penguatan mingguan sebesar 0,48%.

Investor juga memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan menghindari eskalasi konflik di Timur Tengah maupun Ukraina. Konflik yang meluas berpotensi memperburuk posisinya menjelang pemilihan paruh waktu AS karena dapat mendorong inflasi.

Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,12% menjadi 157,79 yen. Pergerakan ini menempatkan yen di jalur penguatan mingguan sebesar 0,33%, setelah mata uang Jepang tersebut melemah selama empat pekan berturut-turut ketika konflik Iran menopang dolar.

Harga minyak yang lebih tinggi cenderung mendukung dolar, tetapi menekan mata uang negara pengimpor energi seperti euro dan yen.

Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda pada Jumat kembali menegaskan risiko inflasi yang mendasari perekonomian dapat melampaui target bank sentral sebesar 2%.

Baca Juga: MSCI Ancam Keluarkan Saham Ini Karena Model Bisnis Mirip Dana Investasi




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×