kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.965   -48,00   -0,27%
  • IDX 5.857   112,91   1,97%
  • KOMPAS100 761   16,86   2,27%
  • LQ45 578   12,69   2,24%
  • ISSI 203   3,50   1,76%
  • IDX30 328   7,00   2,18%
  • IDXHIDIV20 403   8,56   2,17%
  • IDX80 87   1,92   2,28%
  • IDXV30 109   1,94   1,81%
  • IDXQ30 105   2,27   2,20%

Drama Adu Penalti Bukan Lagi Untung-untungan, Jadi Senjata Baru Tim di Piala Dunia


Jumat, 03 Juli 2026 / 08:11 WIB
Diperbarui Jumat, 03 Juli 2026 / 08:14 WIB
Drama Adu Penalti Bukan Lagi Untung-untungan, Jadi Senjata Baru Tim di Piala Dunia
ILUSTRASI. Piala Dunia 2026 (REUTERS/Agustin Marcarian)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Adu penalti tak lagi dianggap sebagai permainan keberuntungan semata.

Di ajang Piala Dunia 2026, semakin banyak tim nasional menjadikan eksekusi penalti sebagai disiplin khusus yang dipersiapkan secara ilmiah, mulai dari aspek teknik, psikologi hingga analisis data.

Perubahan pendekatan tersebut terlihat dari sejumlah hasil pertandingan fase gugur. Jerman dan Belanda harus tersingkir setelah kalah dalam adu penalti dari Paraguay dan Maroko.

Baca Juga: Pengadilan AS Wajibkan Sidang Jaminan bagi Migran yang Ditahan Lebih dari 90 Hari

Sebaliknya, gelandang Belgia Youri Tielemans menjadi pahlawan lewat penalti pada masa tambahan waktu yang memastikan kemenangan dramatis atas Senegal.

Profesor di Norwegian School of Sport Sciences sekaligus penulis buku Pressure, Geir Jordet, mengatakan anggapan bahwa adu penalti hanyalah lotere sudah tidak lagi relevan.

Menurutnya, dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, peluang menghadapi adu penalti sangat besar sehingga tim yang tidak mempersiapkannya secara serius justru mengambil risiko besar.

Ia menilai kegagalan penalti dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang, terutama bagi pemain muda yang kariernya bisa dikenang karena satu kegagalan dari titik putih.

Baca Juga: Aktivitas Sektor Jasa Jepang Kembali Ekspansif pada Juni, Tekanan Biaya Meningkat

Inggris Jadi Contoh

Jordet mencontohkan transformasi yang dilakukan tim nasional England. Setelah kalah dalam enam dari tujuh adu penalti pada era 1990-an hingga awal 2000-an, federasi sepak bola Inggris mulai membangun program latihan penalti secara komprehensif.

Kini, di bawah pelatih Thomas Tuchel, program tersebut tetap dijalankan.

Tuchel menegaskan, keberhasilan penalti bergantung pada latihan yang berulang dan eksekusi yang tepat.

Baca Juga: Profil Cabo Verde, Tim Debutan Piala Dunia Lawan Argentina di Babak 32 Besar

"Kami memiliki program dari federasi dan mengikuti program tersebut secara detail. Penalti adalah bagian yang sangat penting dalam pertandingan fase gugur," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan pelatih Spanyol Luis de la Fuente.

Menurutnya, tidak semua pemain mampu menjadi eksekutor penalti karena aspek psikologis juga sangat menentukan.

Psikologi Jadi Penentu

Dalam risetnya, Jordet menganalisis 718 tendangan penalti dari seluruh adu penalti di Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champions sejak sistem adu penalti diperkenalkan pada 1970 hingga 2023.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Naik Tipis Jelang Hari Libur Kemerdekaan AS

Hasilnya menunjukkan sekitar 53% pemain yang gagal memperlihatkan bahasa tubuh serupa, seperti menundukkan kepala, menutupi wajah, atau menjauh dari rekan setim.

Ia juga menilai reaksi pemain setelah wasit meniup peluit dapat menjadi indikator kondisi mental.

Pemain yang terlalu terburu-buru mengambil tendangan kerap menunjukkan fokus yang lebih besar pada tekanan emosional dibandingkan tugas yang harus dijalankan.

Namun, ada pengecualian. Penyerang Prancis Kylian Mbappé dikenal sebagai salah satu pengambil penalti tercepat di dunia, tetapi tetap memiliki tingkat keberhasilan tinggi karena kecepatan tersebut merupakan bagian dari gaya bermainnya.

Tielemans juga mengakui latihan menjadi faktor penting saat mengeksekusi penalti melawan Senegal.

"Kami telah berlatih beberapa hari terakhir. Pada momen itu, Anda hanya perlu percaya diri dan yakin dengan kemampuan sendiri," katanya.

Baca Juga: Tinggalkan Pesawat AWACS yang Menua, NATO Beralih ke Jet Pengintai Saab GlobalEye

Kiper Kini Mengandalkan Analitik

Tidak hanya penendang yang berkembang, para penjaga gawang juga semakin mengandalkan analisis data untuk membaca kebiasaan lawan.

Kiper Maroko Yassine Bounou atau Bono disebut Jordet sebagai salah satu contoh terbaik.

Menurutnya, Bono mengembangkan teknik gerakan tipuan ganda di garis gawang untuk mengecoh penendang yang menunggu arah lompatan kiper sebelum menendang bola.

Baca Juga: Microsoft Gelontorkan US$2,5 Miliar untuk Dirikan Microsoft Frontier Company

Strategi tersebut terbukti efektif saat Maroko menyingkirkan Belanda melalui adu penalti, ketika dua pemain Belanda gagal mengenai sasaran dan satu tendangan lainnya berhasil ditepis Bono.

Sementara itu, pelatih Brasil Carlo Ancelotti bahkan menggelar simulasi adu penalti secara penuh dalam sesi latihan.

Para pemain diminta berjalan dari garis tengah lapangan menuju titik penalti seperti situasi pertandingan sesungguhnya, sementara Ancelotti mengamati bahasa tubuh dan kecenderungan setiap pemain.

Meski latihan, analisis data, dan pendekatan psikologis terus berkembang, Jordet meyakini satu kenyataan tidak berubah: di setiap Piala Dunia akan selalu ada pemain yang kariernya dikenang hanya karena satu tendangan dari jarak 12 yard.




TERBARU

[X]
×