Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan CEO Goldman Sachs, Lloyd Blankfein, menilai pendidikan tinggi masih menjadi salah satu jalan paling efektif untuk meningkatkan taraf hidup dan menembus kelas menengah hingga atas.
Menurut dia, pendidikan tidak hanya membekali seseorang dengan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan berinteraksi yang dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan karier.
Pandangan Blankfein ini muncul di tengah perdebatan mengenai relevansi gelar sarjana, terutama ketika perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja dan mengancam sejumlah pekerjaan kantoran.
"Saya pikir pendidikan adalah akselerator utama bagi kebanyakan orang untuk masuk ke kelas menengah dan atas," kata Blankfein kepada CBS seperti dikutip dari Fortune, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Goldman Sachs Siapkan CEO Baru, John Waldron Disebut Gantikan David Solomon
Blankfein memahami peran pendidikan dari pengalaman pribadinya. Ia tumbuh di lingkungan perumahan publik di Brooklyn, New York, dan harus berbagi kamar di apartemen kecil bersama nenek atau saudara perempuannya.
Meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di sekolah menengahnya dan diterima di Universitas Harvard pada usia 16 tahun.
Saat itu, sekolahnya bahkan berada di ambang penutupan. Namun, prestasi akademiknya membawanya ke Harvard, yang kemudian menjadi salah satu pijakan penting dalam perjalanan kariernya di industri keuangan.
Blankfein selanjutnya menempuh pendidikan hukum di Harvard Law School sebelum meniti karier hingga memimpin Goldman Sachs selama 12 tahun.
Baca Juga: Gaji Jumbo CEO Goldman Sachs dan Welltower Jadi Sorotan Investor
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan tinggi dapat membuka peluang ekonomi dan memperluas kapasitas seseorang, terlepas dari latar belakang keluarganya.
Berbeda pandangan dengan Peter Thiel
Blankfein juga menentang pandangan sejumlah tokoh teknologi yang meragukan manfaat pendidikan tinggi. Salah satunya adalah Peter Thiel, pendiri bersama PayPal dan Palantir, yang dikenal mendorong anak muda untuk tidak melanjutkan kuliah melalui program Thiel Fellowship.
Program tersebut menawarkan hibah US$ 200.000 kepada wirausaha muda untuk mengembangkan gagasan dan membangun usaha tanpa harus menempuh pendidikan tinggi.
Dalam kutipan memoarnya yang akan datang, Streetwise, yang dibagikan kepada Vanity Fair awal tahun ini, Blankfein menyatakan bahwa keberhasilan karier tidak cukup hanya ditopang oleh penguasaan aspek teknis suatu bidang.
Baca Juga: Pendapatan Trading Melejit, Laba Goldman Sachs Naik Tajam pada Kuartal II
"Untuk sukses dalam karier, tentu Anda harus memahami detail teknis bidang yang ditekuni. Namun, Anda juga harus menjadi pribadi yang utuh, yakni seseorang yang ingin diajak berinteraksi oleh orang lain," tulis Blankfein.
Menurut dia, pendidikan di Harvard turut membentuk kepercayaan diri, kemampuan menulis, minat terhadap sejarah, serta pemahamannya terhadap isu-isu terkini.
Meski mengakui bahwa pengalaman kuliahnya tidak selalu mudah, Blankfein tetap menilai Harvard sebagai tempat terbaik untuk mengembangkan kapasitas dirinya.
Ia juga memandang masa kuliah sebagai kesempatan untuk menghadapi pengalaman baru yang dapat memperluas wawasan dan rasa ingin tahu.
Hal-hal tersebut, menurut dia, menjadi bekal penting dalam membangun hubungan profesional dan mengembangkan karier.














