Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
Pandangan Blankfein sejalan dengan sejumlah pemimpin perusahaan lain yang menilai pendidikan tinggi berperan dalam membangun keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, termasuk kemampuan di luar bidang teknis.
CEO Uber Dara Khosrowshahi, misalnya, mengapresiasi pendidikan di Brown University yang memadukan teknik dan ilmu humaniora.
Menurut dia, pendidikan teknik membantunya memecahkan masalah kompleks, sedangkan ilmu humaniora memperkuat kemampuan komunikasi yang diperlukan dalam posisi kepemimpinan.
Khosrowshahi menyebut perpaduan kedua bidang tersebut sebagai salah satu bekal penting dalam perjalanan kariernya. Kemampuan menyampaikan gagasan secara meyakinkan, menurut dia, merupakan kebutuhan mendasar bagi seorang pemimpin.
Baca Juga: Goldman Sachs Ajukan ETF Bitcoin Perdana, Bidik Eksposur dan Pendapatan Opsi
Di tengah perkembangan AI, pandangan serupa juga disampaikan CEO Databricks Ali Ghodsi. Ia memperkirakan inovasi teknologi akan mengubah pendidikan secara signifikan dan membuka peluang bagi munculnya jenis pekerjaan baru.
Sementara itu, salah satu pendiri Anthropic, Daniela Amodei, menilai pendidikan humaniora justru akan semakin relevan dalam dunia kerja yang makin dipengaruhi teknologi.
Kemampuan berpikir kritis dan berinteraksi dengan orang lain, menurut dia, tetap dibutuhkan seiring perkembangan AI.
"Saya justru berpikir bahwa mempelajari ilmu humaniora akan menjadi semakin penting," kata Amodei dalam wawancara dengan ABC News awal tahun ini.
Perdebatan mengenai manfaat kuliah pun tidak semata-mata berkaitan dengan gelar akademik.
Bagi Blankfein dan sejumlah pemimpin bisnis lainnya, pendidikan tinggi juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan personal dan sosial yang melengkapi keterampilan teknis, sekaligus membantu seseorang beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.














