Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan agar tidak ada sikap terlalu percaya diri di pasar keuangan global, seraya menyoroti risiko aksi jual akibat kecerdasan buatan (AI), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, atau serangan siber sebagai ancaman potensial yang dihadapi pasar yang saat ini masih tangguh.
Mengutip Reuters, Selasa (13/10/2026), dalam Laporan Stabilitas Keuangan Global terbarunya, lembaga tersebut memperingatkan bahwa jika keuntungan atau investasi AI menurun, hal itu dapat memicu koreksi harga aset terkait yang dampaknya bisa meluas ke pasar yang lebih luas.
Aksi jual semacam itu, serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah atau serangan siber besar-besaran, termasuk dalam "katalis jangka pendek yang mungkin terjadi" yang harus dipantau oleh para pembuat kebijakan, tulis lembaga tersebut.
Baca Juga: IMF Ramal Ekonomi Global Tumbuh 3,1% pada 2026, Investasi AI Jadi Penopang
"Risiko-risiko ini dengan sendirinya tidak serta-merta mengancam stabilitas keuangan, namun bisa menjadi masalah sistemik... jika diperparah oleh kerentanan yang mendasarinya," kata lembaga tersebut dalam laporan tengah tahunannya.
IMF juga menambahkan bahwa risiko stabilitas keuangan masih tetap tinggi.
IMF menyatakan bahwa investasi AI sejauh ini telah membantu mengimbangi hambatan ekonomi akibat perang di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan secara umum.
Namun, IMF mencatat adanya bukti yang terus bertambah bahwa kemampuan AI mungkin tidak memerlukan investasi sebesar itu, atau potensi keuntungan ekonominya mungkin tidak sebesar yang diperkirakan.
Jika momentum tersebut melambat, IMF mencatat bahwa peningkatan penggunaan leverage di sektor AI dapat memperparah guncangan apa pun dengan memicu aksi jual paksa dan volatilitas yang lebih tinggi.
Sebagai contoh, perusahaan penyedia infrastruktur komputasi skala besar (hyperscalers) kini mencakup 10% dari penerbitan obligasi peringkat layak investasi (investment-grade) global, naik dari kurang dari 1% pada tahun 2024.
"Dampak dari koreksi sektor AI bisa bersifat global," demikian peringatan IMF, sembari mendesak para pembuat kebijakan untuk membatasi penggunaan leverage—termasuk instrumen derivatif dan pinjaman margin—di mana penggunaannya dinilai "berlebihan."
Kenaikan Imbal Hasil
IMF menyatakan bahwa risiko pasar obligasi telah memburuk sejak laporan bulan April, karena harga energi yang lebih tinggi telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Pertama, para pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan suku bunga kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi; langkah ini pada gilirannya dapat memperberat beban utang negara-negara yang melakukan roll-over (perpanjangan jatuh tempo) atas utang jangka pendek mereka.
Selain itu, investor yang lebih sensitif terhadap harga dapat memberikan tekanan kenaikan pada imbal hasil (yield), dan likuiditas pasar bisa terganggu di tengah lingkungan yang lebih fluktuatif.
Baca Juga: Rupiah dan Won Korea Melemah Selasa (13/10), Dolar Taiwan Catat Penurunan Terbesar
IMF memperingatkan bahwa masing-masing faktor tersebut dapat memicu lonjakan tajam pada imbal hasil obligasi. Lembaga ini menambahkan bahwa tingkat utang negara yang mencapai rekor tertinggi secara historis serta defisit fiskal yang belum teratasi di negara-negara ekonomi utama turut menambah tekanan.
Kendati demikian, pasar obligasi sejauh ini mampu menghadapi tekanan tersebut dengan baik; dana lindung nilai (hedge fund) misalnya, dapat mengurangi sebagian pinjaman berbasis perjanjian pembelian kembali (repurchase agreement atau repo) tanpa memicu gejolak di pasar repo.
IMF mendesak para pembuat kebijakan untuk menempatkan utang publik pada jalur yang berkelanjutan.
IMF juga menyoroti bahwa perkembangan teknologi dan ketergantungan yang kian besar pada segelintir penyedia layanan vital membuat upaya pertahanan siber menjadi lebih sulit.
Lembaga ini mencatat bahwa dalam lebih dari 70% kasus yang terjadi sepanjang tahun 2026, penyedia perangkat lunak hampir tidak memiliki waktu untuk memperbaiki kerentanan sebelum celah tersebut dieksploitasi.
Baca Juga: AS Kecam Sanksi China terhadap Pejabat Belize dan Paraguay Terkait Taiwan
IMF menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mengatasi sebagian risiko ini, namun di sisi lain, model AI juga membuat serangan siber menjadi lebih canggih.
IMF memperingatkan bahwa serangan besar yang berdampak pada layanan vital atau lembaga keuangan dapat mengikis kepercayaan, yang dampaknya bisa dengan cepat merambat ke seluruh pasar. Lembaga ini menyerukan kepada para pembuat kebijakan untuk meningkatkan kapasitas keamanan siber, termasuk melalui pengawasan yang lebih ketat terhadap vendor teknologi pihak ketiga.
IMF menyatakan bahwa model uji ketahanan (stress test) menunjukkan bantalan modal bank tetap kuat, bahkan dalam skenario penurunan ekonomi hipotetis yang dipicu oleh perlambatan sektor AI dan kerentanan pasar obligasi.
Namun, IMF juga memperingatkan adanya "titik-titik kerentanan"; hasil uji tersebut menunjukkan bahwa bank-bank yang menguasai 22% aset perbankan global memiliki tingkat permodalan yang "lemah", meningkat dari 18% pada uji ketahanan tahun 2025.














