Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Goldman Sachs melalui divisi manajemen asetnya mengajukan produk exchange-traded fund (ETF) berbasis kripto pertamanya, yang akan memberikan eksposur terhadap harga Bitcoin sekaligus potensi pendapatan dari transaksi opsi.
Melansir Reuters, pengajuan tersebut disampaikan ke U.S. Securities and Exchange Commission pada Selasa (14/4/2026), dengan rencana peluncuran dalam beberapa bulan ke depan, kemungkinan pada akhir Juni.
Baca Juga: AS-Iran Berpotensi Lanjutkan Perundingan Pekan Ini Meski Ada Blokade Pelabuhan
Produk ini hadir hanya beberapa hari setelah pesaingnya, Morgan Stanley, meluncurkan ETF Bitcoin spot melalui Morgan Stanley Bitcoin Trust ETF.
ETF terbaru Goldman Sachs dirancang tidak hanya mengikuti pergerakan harga Bitcoin, tetapi juga menghasilkan pendapatan tambahan melalui strategi opsi.
Namun, analis menilai produk ini tetap memiliki risiko, terutama di tengah volatilitas pasar kripto yang tinggi.
“Tambahan pendapatan dari opsi memang menarik, tetapi ini bisa menjadi produk yang sulit dipasarkan karena volatilitasnya dan investor tetap menghadapi risiko penurunan,” ujar Bryan Armour, analis ETF dari Morningstar.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak 2%, Didorong Pelemahan Dolar dan Harapan Negosiasi AS-Iran
Pasar Kripto Masih Bergejolak
Peluncuran ETF ini terjadi di tengah kondisi pasar kripto yang menantang. Harga Bitcoin tercatat turun hampir 15% sepanjang tahun ini ke kisaran US$ 74.591, serta masih sekitar 40% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 126.223 yang dicapai pada Oktober tahun lalu.
Selain tekanan dari sentimen risiko global, pasar juga dipengaruhi volatilitas di logam mulia, aksi jual saham teknologi, serta ketegangan geopolitik terkait konflik AS-Israel dengan Iran.
Meski demikian, aset kelolaan ETF kripto secara global masih menunjukkan pertumbuhan, meskipun lajunya lebih lambat dan tidak stabil.
Data ETF.com menunjukkan bahwa beberapa produk seperti Grayscale Bitcoin Covered Call ETF dan Global X Bitcoin Covered Call ETF justru mencatat arus keluar dana (outflow) dalam tiga bulan terakhir.
Baca Juga: Ekspor China Kehilangan Tenaga, Sinyal Risiko Ekonomi
Strategi Ekspansi Pasca Akuisisi
ETF ini menjadi pengajuan pertama Goldman Sachs setelah merampungkan akuisisi senilai US$ 2 miliar terhadap Innovator Capital Management awal bulan ini.
Innovator dikenal sebagai pelopor ETF berbasis opsi di Amerika Serikat, termasuk peluncuran buffer ETF pertama pada 2018, produk yang dirancang untuk membatasi risiko penurunan sekaligus memberikan potensi imbal hasil tertentu.
Hingga saat ini, pihak Goldman Sachs belum memberikan komentar resmi terkait detail produk maupun besaran biaya (fee) yang akan dikenakan pada ETF tersebut.













