kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.959   18,00   0,10%
  • IDX 5.888   -47,78   -0,80%
  • KOMPAS100 759   -6,56   -0,86%
  • LQ45 585   -6,07   -1,03%
  • ISSI 205   -1,63   -0,79%
  • IDX30 326   -4,06   -1,23%
  • IDXHIDIV20 419   -4,18   -0,99%
  • IDX80 87   -0,79   -0,90%
  • IDXV30 115   -0,97   -0,84%
  • IDXQ30 107   -1,39   -1,28%

Bursa Asia Anjlok Selasa (13/10), Kospi Korea Selatan Ambles 6%


Selasa, 13 Oktober 2026 / 09:03 WIB
Bursa Asia Anjlok Selasa (13/10), Kospi Korea Selatan Ambles 6%
ILUSTRASI. Bursa Asia - Kopsi, Won Korea Selatan (REUTERS/Kim Hong-Ji)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah tajam pada perdagangan Selasa (13/10/2026), dipimpin saham-saham teknologi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan harga minyak dunia yang bertahan tinggi.

Investor juga mencermati dimulainya musim laporan keuangan perusahaan Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi penentu arah pasar hingga akhir tahun.

Harga minyak kembali menjadi penggerak utama pasar keuangan global. Kontrak berjangka minyak mentah Brent berada di kisaran US$ 105,9 per barel, mendekati level tertinggi dalam dua pekan terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.

Baca Juga: Dolar AS Bertahan Dekati Level Tertinggi 18 Bulan Selasa (13/10), Ini Pemicunya

Pasar minyak masih bergejolak karena investor memperhitungkan risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap Arab Saudi, sekaligus mempertimbangkan potensi tambahan pasokan solar dari Rusia.

Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura Charu Chanana mengatakan, pasar kembali menyadari bahwa risiko geopolitik memiliki dampak besar ketika mendorong kenaikan inflasi.

“Kenaikan harga minyak kembali menekan imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik saham-saham pertumbuhan bervaluasi tinggi. Kondisi ini terjadi ketika gencatan senjata energi Rusia-Ukraina terlihat rapuh dan risiko pasokan dari Timur Tengah masih membayangi,” ujar Chanana dikutip dari Reuters.

Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 2% pada awal perdagangan. Indeks Kospi Korea Selatan, yang didominasi saham teknologi, merosot 6%. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang anjlok 2,6% setelah kembali diperdagangkan usai libur.

Baca Juga: Inflasi Grosir Jepang Capai 6,8% September, Peluang Kenaikan Suku Bunga BOJ Terbuka

Analis senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan, pelemahan saham teknologi di Asia turut dipicu aksi jual saham semikonduktor di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi turun 0,5% pada Senin (12/10/2026), tertekan saham-saham produsen chip. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tengah persaingan yang semakin ketat antara AS dan China.

Rodda menambahkan, kenaikan harga minyak serta sikap investor yang cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi dan laporan keuangan perusahaan memperbesar tekanan jual di pasar saham Asia.

Sentimen penghindaran risiko atau risk-off juga menopang dolar AS yang bertahan di dekat level tertinggi dalam 18 bulan. Euro terakhir diperdagangkan di US$ 1,1157, sedangkan yen Jepang berada di level 158,50 per dolar AS.

Baca Juga: Paus Leo Akan Jalani Operasi Pengangkatan Nodul di Paru-paru

Investor Nantikan Kinerja Bank AS

Selain perkembangan geopolitik dan harga energi, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan sejumlah bank besar AS yang dirilis pekan ini.

Kinerja perbankan akan menjadi petunjuk mengenai dampak kenaikan imbal hasil US Treasury terhadap aktivitas transaksi, pertumbuhan kredit, dan biaya pendanaan.

Tekanan inflasi akibat tingginya harga energi serta kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah telah memicu beberapa gelombang aksi jual obligasi dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam beberapa dekade di berbagai negara.

Empat dari enam bank terbesar AS, yakni JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo, dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Selasa waktu setempat.

Kepala Strategi Pasar Ameriprise Financial, Anthony Saglimbene, mengatakan investor akan mencermati laporan tersebut untuk menilai apakah rumah tangga AS masih mampu membayar kewajiban, mengakses pinjaman, dan mempertahankan belanja pada tingkat yang sehat.

Baca Juga: Bandara Riyadh Ditutup hingga 17 Oktober, Sejumlah Maskapai Batalkan Penerbangan

Menurut dia, musim laporan keuangan kuartal III-2026 dimulai ketika indeks saham berada di dekat rekor tertinggi sehingga ruang bagi perusahaan untuk menyampaikan kinerja yang mengecewakan semakin terbatas.

Agar pasar saham dapat melanjutkan penguatan, perusahaan-perusahaan AS perlu membukukan hasil yang solid sekaligus menunjukkan kemampuan mempertahankan momentum bisnis hingga akhir tahun.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 2,9 basis poin menjadi 5,214% pada perdagangan Asia.

Meski demikian, imbal hasil tersebut masih bertahan dekat level tertinggi dalam 24 tahun, yakni 5,364%, yang tercatat pada pekan lalu.




TERBARU

[X]
×