Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Inflasi harga grosir Jepang mencapai 6,8% secara tahunan pada September 2026.
Meski melambat dibandingkan bulan sebelumnya, kenaikan harga di tingkat produsen masih menunjukkan tekanan inflasi yang tinggi dan menjaga ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dalam waktu dekat.
Data yang dirilis BOJ pada Selasa (13/10/2026) menunjukkan, kenaikan indeks harga barang korporasi atau corporate goods price index (CGPI) tersebut lebih rendah dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 7,6%. Angka September juga berada di bawah median perkiraan pasar sebesar 7,6%.
Baca Juga: Paus Leo Akan Jalani Operasi Pengangkatan Nodul di Paru-paru
Indeks CGPI mengukur harga barang dan jasa yang diperdagangkan antarperusahaan. Pergerakan indeks ini menjadi salah satu indikator tekanan biaya yang berpotensi diteruskan ke konsumen.
Sementara itu, indeks harga impor berbasis yen melonjak 24,5% pada September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut menunjukkan pelemahan yen masih mendorong biaya impor bahan baku bagi perusahaan Jepang.
Ekonom senior Sompo Institute Plus Masato Koike memperkirakan, inflasi grosir berpotensi kembali meningkat di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak mentah tetap tinggi.
“Inflasi grosir kemungkinan kembali meningkat mengingat ketidakpastian yang tinggi akibat konflik Timur Tengah, yang membuat harga minyak mentah tetap tinggi,” kata Koike.
Baca Juga: Bandara Riyadh Ditutup hingga 17 Oktober, Sejumlah Maskapai Batalkan Penerbangan
Namun, ia menilai belum ada tanda-tanda tekanan inflasi meningkat tajam untuk saat ini. Kondisi tersebut memperbesar kemungkinan BOJ mempertahankan suku bunga pada Oktober dan menunggu hingga Desember untuk kembali menaikkannya.
Lonjakan inflasi grosir sebelumnya menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan BOJ dalam keputusan menaikkan suku bunga pada Juni dan September.
Bank sentral Jepang menilai tekanan harga yang meningkat menjadi salah satu alasan untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter.
Data terbaru juga menunjukkan kenaikan harga terjadi pada berbagai kelompok barang. Harga produk pertanian turun 13,3% secara tahunan pada September, terutama akibat anjloknya harga beras. Sebaliknya, harga makanan olahan, mesin listrik, serta peralatan telekomunikasi mencatat kenaikan.
Harga barang kimia meningkat 13,3%, produk plastik naik 12,8%, sedangkan barang logam nonbesi melonjak 40,2%.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Turun ke US$ 106 Selasa (13/10), Risiko Pasokan Teluk Membayangi
Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya biaya yang dihadapi perusahaan akibat pelemahan yen, perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta kuatnya permintaan terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan, kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga berikutnya akan bergantung pada sejauh mana tekanan kenaikan harga di tingkat grosir merambat ke inflasi konsumen serta dampaknya terhadap konsumsi masyarakat.
Data terbaru menunjukkan inflasi inti konsumen di Tokyo, yang kerap menjadi indikator awal tren harga nasional, meningkat pada September dengan laju tercepat dalam 10 bulan.
Sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa BOJ berpotensi memberi sinyal pada pertemuan bulan ini bahwa inflasi yang mendasari tren harga telah mendekati target 2%.
Sinyal tersebut dapat memperkuat indikasi bahwa bank sentral siap kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
BOJ menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun pada bulan lalu. Bank sentral juga mengisyaratkan memasuki fase kebijakan yang berfokus pada pencegahan inflasi mendasar melampaui targetnya, sehingga membuka peluang pengetatan moneter lebih lanjut.
Baca Juga: Eks CEO Bukalapak Willix Halim Gabung Canva, Ini Tugas Barunya
Pada pertemuan 29-30 Oktober 2026, BOJ akan merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi terbaru untuk kuartalannya.
Proyeksi tersebut akan dicermati pelaku pasar untuk memperoleh petunjuk mengenai waktu kenaikan suku bunga berikutnya.
Banyak analis memperkirakan BOJ kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir 2026.














