Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia jatuh pada perdagangan Selasa (28/7/2026), dipimpin oleh aksi jual besar-besaran di sektor semikonduktor.
Kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) memicu tekanan di saham-saham teknologi, sementara pelaku pasar juga mewaspadai potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Bank Sentral Malaysia Yakin Ekonomi Tumbuh di Batas Atas Target 5% Tahun Ini
Mengutip Reuters, indeks KOSPI Korea Selatan merosot lebih dari 8% ke level terendah dalam tiga bulan hingga memicu penghentian sementara perdagangan (circuit breaker).
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang turun 4%, mengikuti pelemahan Philadelphia Semiconductor Index sebesar 2,2% pada perdagangan sebelumnya di AS.
Tekanan terhadap sektor teknologi muncul setelah saham Nvidia anjlok 5% semalam. Penurunan ini dipicu laporan Wall Street Journal yang menyebut Nvidia sedang berdiskusi untuk memberikan jaminan pembiayaan sekitar US$ 250 miliar bagi OpenAI dalam proyek pembangunan pusat data berskala besar.
Di sisi lain, lonjakan harga saham CXMT Corp hingga 466% pada hari pertama perdagangan di Shanghai memperkuat optimisme investor terhadap industri semikonduktor China.
Namun, perkembangan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran mengenai semakin ketatnya persaingan bagi produsen chip global.
Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp 18.080 per Dolar AS, Terburuk di Asia pada Perdagangan Pagi
"Jelas terlihat adanya optimisme yang meningkat di pasar domestik China mengenai kemampuan negara itu membangun ekosistem AI yang kompetitif secara global," kata Chris Weston, Head of Research Pepperstone.
Sentimen terhadap sektor chip semakin tertekan setelah laporan The Information menyebut China telah mulai memproduksi mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV) buatan dalam negeri, teknologi yang selama ini didominasi perusahaan Belanda, ASML.
Kabar tersebut membuat saham ASML jatuh 8,5%.
Di Korea Selatan, saham SK Hynix merosot hampir 11%, sedangkan Samsung Electronics kehilangan lebih dari 9%. Di Jepang, saham Kioxia anjlok 18% dan Tokyo Electron turun 9,8%.
Baca Juga: Pemerintah Yaman Sebut Houthi Berupaya Kuasai Jalur Laut Merah ala Iran di Hormuz
Saham-saham China juga ikut tertekan. Setelah melonjak tajam pada debutnya, saham CXMT turun sekitar 7% pada perdagangan pagi, sementara indeks sektor semikonduktor juga bergerak melemah.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melanjutkan penurunan hampir 9% pada perdagangan sebelumnya dan diperdagangkan di US$ 87,55 per barel.
Pelemahan terjadi setelah meredanya ketegangan antara AS dan Iran menyusul penghentian serangan udara Washington pada akhir pekan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya tengah melakukan "pembicaraan yang baik" dengan Iran dan masih terdapat peluang tercapainya kesepakatan.
Penurunan harga minyak mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 4 basis poin menjadi 4,64%, meski pergerakan obligasi tenor pendek relatif terbatas.
Baca Juga: Australia Pertimbangkan Bangun Kilang Minyak Baru Pertama dalam 60 Tahun
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 38% bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan yang hasilnya diumumkan Rabu.
"Perang AS-Iran, melalui dampaknya terhadap harga minyak mentah, masih menjadi faktor terpenting yang akan menentukan arah ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus memengaruhi prospek kebijakan bank sentral," kata Thierry Wizman, ahli strategi mata uang dan suku bunga Macquarie Group.
Ia menambahkan bahwa The Fed kemungkinan masih akan mempertahankan sikap yang cenderung ketat (tightening bias).
Ekspektasi kenaikan suku bunga turut menopang penguatan dolar AS. Euro bertahan di bawah US$ 1,14 pada level US$ 1,1370, sedangkan dolar Australia diperdagangkan sedikit di bawah US$ 0,70.
Baca Juga: Johnson & Johnson Sepakat Bayar US$ 5,5 Miliar untuk Akhiri Gugatan Bedak Talek
Sementara itu, yen Jepang berada di kisaran 163,78 per dolar AS, tidak jauh dari level terlemahnya dalam empat dekade.
Pasar pun bersiap mengantisipasi kemungkinan intervensi pemerintah Jepang apabila Bank of Japan (BoJ) kembali mempertahankan suku bunga pada pekan ini dan pelemahan yen berlanjut.














