Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada perdagangan Selasa (28/7/2026), seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Reuters hingga pukul 02.10 GMT, rupiah berada di level Rp 18.080 per dolar AS, melemah 0,44% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga: Pemerintah Yaman Sebut Houthi Berupaya Kuasai Jalur Laut Merah ala Iran di Hormuz
Selain rupiah, dolar Taiwan juga mencatat pelemahan cukup tajam, yakni 0,41% terhadap dolar AS.
Mata uang Asia lainnya juga bergerak di zona merah, meski dengan penurunan yang lebih terbatas.
Won Korea Selatan melemah 0,32%, baht Thailand turun 0,15%, peso Filipina terkoreksi 0,10%, yuan China melemah 0,06%, dolar Singapura turun 0,03%, sedangkan yen Jepang dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,02%.
Sementara itu, rupee India diperdagangkan relatif stabil dan tidak mencatat perubahan dibandingkan penutupan sebelumnya.
Baca Juga: Australia Pertimbangkan Bangun Kilang Minyak Baru Pertama dalam 60 Tahun
Secara year to date (YTD), rupiah juga menjadi mata uang Asia dengan kinerja terburuk terhadap dolar AS.
Sejak awal 2026, rupiah telah melemah sekitar 7,80%, dari level Rp 16.670 per dolar AS pada akhir 2025 menjadi Rp 18.080 per dolar AS.
Di belakang rupiah, baht Thailand turun 6,57% sepanjang tahun ini, disusul rupee India yang melemah 6,30%, peso Filipina 4,72%, yen Jepang 4,35%, dolar Taiwan 3,08%, dan won Korea Selatan 2,07%.
Baca Juga: Bursa Australia Turun Selasa (28/7), Saham Tambang Tertekan Jelang Data Inflasi
Adapun ringgit Malaysia terkoreksi 0,69%, sementara dolar Singapura melemah 0,47%.
Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, yuan China justru masih menguat sekitar 3,27% terhadap dolar AS sepanjang 2026, menjadikannya satu-satunya mata uang utama di kawasan yang masih mencatat apresiasi terhadap mata uang Negeri Paman Sam.














