kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.916   -25,00   -0,14%
  • IDX 5.906   -30,02   -0,51%
  • KOMPAS100 762   -3,23   -0,42%
  • LQ45 587   -3,52   -0,60%
  • ISSI 205   -1,35   -0,66%
  • IDX30 327   -2,42   -0,73%
  • IDXHIDIV20 421   -1,82   -0,43%
  • IDX80 87   -0,39   -0,45%
  • IDXV30 116   -0,21   -0,18%
  • IDXQ30 107   -0,80   -0,74%

Eks CEO Goldman Sachs: Kuliah Jadi Jalan Tembus Kelas Menengah ke Atas


Selasa, 13 Oktober 2026 / 11:25 WIB
Eks CEO Goldman Sachs: Kuliah Jadi Jalan Tembus Kelas Menengah ke Atas
ILUSTRASI. Cambridge Petakan 8 Prinsip Integrasi AI dalam Sistem Pendidikan (Dok/Cambridge)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan CEO Goldman Sachs, Lloyd Blankfein, menilai pendidikan tinggi masih menjadi salah satu jalan paling efektif untuk meningkatkan taraf hidup dan menembus kelas menengah hingga atas. 

Menurut dia, pendidikan tidak hanya membekali seseorang dengan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan berinteraksi yang dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan karier.

Pandangan Blankfein ini muncul di tengah perdebatan mengenai relevansi gelar sarjana, terutama ketika perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja dan mengancam sejumlah pekerjaan kantoran.

"Saya pikir pendidikan adalah akselerator utama bagi kebanyakan orang untuk masuk ke kelas menengah dan atas," kata Blankfein kepada CBS seperti dikutip dari Fortune, Selasa (13/10/2026).

Baca Juga: Goldman Sachs Siapkan CEO Baru, John Waldron Disebut Gantikan David Solomon

Blankfein memahami peran pendidikan dari pengalaman pribadinya. Ia tumbuh di lingkungan perumahan publik di Brooklyn, New York, dan harus berbagi kamar di apartemen kecil bersama nenek atau saudara perempuannya. 

Meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di sekolah menengahnya dan diterima di Universitas Harvard pada usia 16 tahun.

Saat itu, sekolahnya bahkan berada di ambang penutupan. Namun, prestasi akademiknya membawanya ke Harvard, yang kemudian menjadi salah satu pijakan penting dalam perjalanan kariernya di industri keuangan. 

Blankfein selanjutnya menempuh pendidikan hukum di Harvard Law School sebelum meniti karier hingga memimpin Goldman Sachs selama 12 tahun.

Baca Juga: Gaji Jumbo CEO Goldman Sachs dan Welltower Jadi Sorotan Investor

Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan tinggi dapat membuka peluang ekonomi dan memperluas kapasitas seseorang, terlepas dari latar belakang keluarganya.

Berbeda pandangan dengan Peter Thiel

Blankfein juga menentang pandangan sejumlah tokoh teknologi yang meragukan manfaat pendidikan tinggi. Salah satunya adalah Peter Thiel, pendiri bersama PayPal dan Palantir, yang dikenal mendorong anak muda untuk tidak melanjutkan kuliah melalui program Thiel Fellowship. 

Program tersebut menawarkan hibah US$ 200.000 kepada wirausaha muda untuk mengembangkan gagasan dan membangun usaha tanpa harus menempuh pendidikan tinggi.

Dalam kutipan memoarnya yang akan datang, Streetwise, yang dibagikan kepada Vanity Fair awal tahun ini, Blankfein menyatakan bahwa keberhasilan karier tidak cukup hanya ditopang oleh penguasaan aspek teknis suatu bidang.

Baca Juga: Pendapatan Trading Melejit, Laba Goldman Sachs Naik Tajam pada Kuartal II

"Untuk sukses dalam karier, tentu Anda harus memahami detail teknis bidang yang ditekuni. Namun, Anda juga harus menjadi pribadi yang utuh, yakni seseorang yang ingin diajak berinteraksi oleh orang lain," tulis Blankfein.

Menurut dia, pendidikan di Harvard turut membentuk kepercayaan diri, kemampuan menulis, minat terhadap sejarah, serta pemahamannya terhadap isu-isu terkini. 

Meski mengakui bahwa pengalaman kuliahnya tidak selalu mudah, Blankfein tetap menilai Harvard sebagai tempat terbaik untuk mengembangkan kapasitas dirinya.

Ia juga memandang masa kuliah sebagai kesempatan untuk menghadapi pengalaman baru yang dapat memperluas wawasan dan rasa ingin tahu. 

Hal-hal tersebut, menurut dia, menjadi bekal penting dalam membangun hubungan profesional dan mengembangkan karier.

Pendidikan lintas disiplin

Pandangan Blankfein sejalan dengan sejumlah pemimpin perusahaan lain yang menilai pendidikan tinggi berperan dalam membangun keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, termasuk kemampuan di luar bidang teknis.

CEO Uber Dara Khosrowshahi, misalnya, mengapresiasi pendidikan di Brown University yang memadukan teknik dan ilmu humaniora. 

Menurut dia, pendidikan teknik membantunya memecahkan masalah kompleks, sedangkan ilmu humaniora memperkuat kemampuan komunikasi yang diperlukan dalam posisi kepemimpinan.

Khosrowshahi menyebut perpaduan kedua bidang tersebut sebagai salah satu bekal penting dalam perjalanan kariernya. Kemampuan menyampaikan gagasan secara meyakinkan, menurut dia, merupakan kebutuhan mendasar bagi seorang pemimpin.

Baca Juga: Goldman Sachs Ajukan ETF Bitcoin Perdana, Bidik Eksposur dan Pendapatan Opsi

Di tengah perkembangan AI, pandangan serupa juga disampaikan CEO Databricks Ali Ghodsi. Ia memperkirakan inovasi teknologi akan mengubah pendidikan secara signifikan dan membuka peluang bagi munculnya jenis pekerjaan baru.

Sementara itu, salah satu pendiri Anthropic, Daniela Amodei, menilai pendidikan humaniora justru akan semakin relevan dalam dunia kerja yang makin dipengaruhi teknologi. 

Kemampuan berpikir kritis dan berinteraksi dengan orang lain, menurut dia, tetap dibutuhkan seiring perkembangan AI.

"Saya justru berpikir bahwa mempelajari ilmu humaniora akan menjadi semakin penting," kata Amodei dalam wawancara dengan ABC News awal tahun ini.

Perdebatan mengenai manfaat kuliah pun tidak semata-mata berkaitan dengan gelar akademik. 

Bagi Blankfein dan sejumlah pemimpin bisnis lainnya, pendidikan tinggi juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan personal dan sosial yang melengkapi keterampilan teknis, sekaligus membantu seseorang beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×