Fasilitas LNG Freeport Meledak dan Stop Operasi, Bakal Memacu Harga Gas Alam

Sabtu, 11 Juni 2022 | 16:00 WIB   Reporter: Titis Nurdiana
Fasilitas LNG Freeport Meledak dan Stop Operasi,  Bakal Memacu Harga Gas Alam

ILUSTRASI. Efek meledaknya fasilitas produksi LNG Freeport bisa memacu harga gas alam di tengah tingginya permintaan dan seretnya pasokan. REUTERS/Andrew Cullen/File Photo


KONTAN.CO.ID -TEXAS. Meledaknya fasilitas produksi gas alam utama Freeport di Texas, Amerika Serikat diprediksi akan mengancam pasar dan harga gas alam dunia. 

Melansir Washington Post (9/6), pabrik produksi gas alam Freeport adalah salah satu yang terbesar di dunia . Pabrik ini juga merupakan pengekspor utama ke Inggris dan bagian lain Eropa.

“Penutupan fasilitas Freeport yang berkepanjangan dapat berdampak signifikan pada harga energi,” sebut para  ahli yang dihubungi Washington Post. Pasalnya, pasar bersiap menghadapi lonjakan permintaan pada musim panas.

Fasilitas produksi gas alam Freeport LNG meledak pada Rabu (8/6) waktu setempat. Juru Bicara Perusahaan Heather Browne  kepada Washington Post mengatakan, penyebab kebakaran di fasilitas Freeport LNG di Pulau Quintana masih dalam penyelidikan. Efek meledaknya fasilitas produksi gas alam tersebut, Freeport akan menutup fasilitas tersebut selama tiga minggu. Kondisi ini  akan mengguncang pasar gas alam di AS yang akan berdampak ke pasar Eropa.

Baca Juga: Harga Gas Alam Masih Ngegas, Ini Pendorongnya

Dalam beberapa bulan terakhir, Eropa telah mengambil stok LNG global sebagai membatasi  impor gas alam Rusia.  Menurut Independent Commodity Intelligence Services,  Inggris semisal, mengimpor 28,2 juta ton antara Februari dan April atau naik 29% dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut data dari perusahaan analitik Vortexa, AS merupakan pemasok LNG terbesar di dunia dan menyumbang lebih dari seperlima ekspor global. Output dari fasilitas LNG Freeport mencapai 18% dari ekspor . "Meskipun perkiraan awal tiga minggu downtime oleh operator, dampak produksi kemungkinan akan berlanjut hingga Juli," ujar Kepala LNG di Vortexa, Felix Booth.

Perkiraan Vortexa, penutupan sementara akan memangkas produksi pabrik 8% per bulannya. Eropa akan menjadi wilayah yang paling terkena dampak langsung karena sebanyak 80% kargo Freeport LNG dikirim ke benua itu termasuk Turki, pada Maret lalu. "Ini akan memperketat pasokan secara cepat, terutama di Atlantik karena sebagian besar kargo telah ditujukan ke Eropa," tuturnya.

Alex Munton, Direktur Gas Global dan Gas Alam Cair (LNG) di Rapidan Energy Group menyebut, saat  ini, dunia sudah tertatih-tatih jika bicara pasokan-permintaan LNG global.  “Insiden di Freeport, (saya tidak ingin menggatakan) akan mendorong dunia ke tepi jurang masalah energi, tapi saya pikir waktunnya kini sedikit lebih dekat,” kata  dia.

Saat ini, ada banyak tekanan atas harga gas di Eropa. Risiko dan kerugian yang ditimbulkan akibat perang di Ukraina dan diplomasi gas Rusia serta tekanan gas di Brussel dan di benua itu, sebut Kevin Book, Direktur Pelaksana ClearView Energy Partners perusahaan riset independen akan mempengaruhi harga gas alam sampai hilir.

Sebab, Amerika Serikat adalah pengekspor gas alam terbesar di dunia, di atas Australia dan Qatar, dengan sebagian besar produksi dalam negeri ditujukan ke Inggris dan Uni Eropa. Gas di sana digunakan untuk memanaskan rumah dan bisnis dan untuk memberi daya pada fasilitas industri skala besar.

Di sisi lain, Eropa juga  sedang menghadapi krisis pasokan energi karena mencoba untuk melepaskan diri dari bahan bakar fosil Rusia karena invasi Ukraina. Zona euro baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menghentikan impor minyak mentah Rusia pada akhir 2022. Saat ini, Rusia memasok hampir 40% gas alam blok tersebut.

Eropa juga membeli gas alam dari Skandinavia dan Afrika Utara, tapi daerah-daerah tersebut menghadapi kesulitan untuk meningkatkan produksi dan pemrosesan.

Dan tren kenaikan permintaan, para ahli memperingatkan,pasar gas alam akan semakin ketat. Asia,  khususnya China juga sangat bergantung pada gas alam cair memang mengalami penurunan permintaan pada 2022 karena pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Namun, Beijing pada akhir Mei mengumumkan banyak stimulus ekonomi individu dan perusahaan baru akan meningkatkan permintaan apalagi setelah kebijakan zero Covid diperlonggar

Akibatnya, kata Munton, bisa jadi permintaan di seluruh dunia meningkat. Di tengah suplai terbatas, harga gas alam bisa membububung.

Tren harga gas alam masih mendaki. Sabtu (11/6), harga gas alam turun 1,26% secara harian, setelah pada 9 Mei 2022, harga gas alam mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah setelah menyentuh level US$ 9,54 per mmbtu.

Selama sebulan, harga gas alam telah melonjak 15,84% dan secara tahunan atau year on year melesat hingga 168,51%.

Editor: Titis Nurdiana

Terbaru