Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ford Motor Company (F.N) mengumumkan pada Jumat bahwa mereka telah menghentikan pengiriman kendaraan SUV, truk pikap, dan mobil sport ke China. Keputusan ini diambil setelah perusahaan menghadapi dampak dari tarif balasan yang diberlakukan oleh China, yang mencapai pajak hingga 150%.
Menurut pernyataan resmi Ford, "Kami telah menyesuaikan ekspor dari AS ke China sehubungan dengan tarif yang berlaku saat ini."
Penghentian Pengiriman Kendaraan ke China
Beberapa model yang terdampak oleh keputusan ini termasuk F-150 Raptors, Mustang, dan Bronco SUV yang diproduksi di Michigan, serta Lincoln Navigator yang diproduksi di Kentucky. Ford juga menghentikan pengiriman kendaraan ini ke pasar China sebagai tanggapan terhadap tarif tinggi yang dikenakan oleh pemerintah China.
Langkah ini diambil di tengah kebingungan yang melanda para produsen mobil AS yang berusaha mencari solusi untuk menghadapi kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang sering berubah-ubah. Tarif-tarif tersebut diperkirakan akan mempengaruhi keuntungan produsen mobil dan pemasok komponen secara signifikan.
Baca Juga: Wall Street Libur untuk Peringati Jumat Agung, Perdagangan Dibuka Lagi 21 April 2025
Ford Tanggapi Dampak Tarif terhadap Keuntungan
Meskipun penghentian pengiriman kendaraan utuh ini terjadi, Ford tetap akan melanjutkan ekspor mesin dan transmisi yang diproduksi di AS ke China. Model Lincoln Nautilus, yang diproduksi di China, juga diperkirakan tetap akan dikirim meskipun dikenakan tarif berat.
Ford dikenal sebagai salah satu produsen mobil yang berada dalam posisi terbaik untuk menghadapi dampak tarif karena sekitar 80% kendaraan yang dijual di AS diproduksi di dalam negeri. Meski begitu, perusahaan diperkirakan akan menaikkan harga kendaraan baru jika tarif ini terus berlanjut, sesuai dengan memo internal yang dikirimkan kepada dealer, yang dilihat oleh Reuters.
Dampak Tarif terhadap Industri Otomotif AS
Sebuah analisis oleh Center for Automotive Research yang diterbitkan awal bulan ini memperkirakan bahwa tarif 25% yang dikenakan pada impor mobil dapat meningkatkan biaya bagi produsen mobil sekitar US$108 miliar pada tahun 2025.
Meskipun demikian, Presiden Trump baru-baru ini mengungkapkan kemungkinan untuk memodifikasi tarif yang dikenakan pada industri otomotif, yang menunjukkan bahwa ia mungkin akan mempertimbangkan pengecualian terhadap tarif yang ada.
Baca Juga: Trump Ancam Pecat Ketua The Fed Jerome Powell, Berpotensi Ciptakan Kepanikan Pasar?
Langkah Selanjutnya untuk Ford dan Industri Otomotif AS
Ford dan produsen mobil lainnya kini harus merancang strategi jangka panjang untuk mengatasi dampak tarif ini, yang berpotensi mengubah dinamika perdagangan otomotif global. Keputusan untuk menghentikan pengiriman ke China menunjukkan betapa pentingnya adaptasi terhadap kondisi pasar yang berubah-ubah dan tantangan tarif yang tinggi.
Dengan adanya kebijakan tarif yang semakin ketat, Ford dan perusahaan otomotif lainnya mungkin akan mencari cara-cara baru untuk mempertahankan daya saing di pasar internasional sambil mengelola biaya yang semakin meningkat.