kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Goldman Proyeksi Harga Minyak Brent di Kisaran US$ 80-US$ 90 Per Barel, Ini Alasannya


Selasa, 04 Agustus 2026 / 15:01 WIB
Goldman Proyeksi Harga Minyak Brent di Kisaran US$ 80-US$ 90 Per Barel, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Goldman memperkirakan harga Brent di US$ 80-US$ 90 per barel hingga ada kejelasan kesepakatan nuklir Iran atau peningkatan serangan (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Goldman Sachs memproyeksi harga minyak mentah jenis Brent akan tetap berada di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel hingga ada konfirmasi kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat (AS)-Iran yang baru atau peningkatan serangan yang signifikan.

Goldman mengasumsikan nilai wajar harga spot Brent sekitar US$ 80, menunjukkan bahwa harga pasar hanya memperhitungkan premi risiko yang moderat.

Harga minyak pun berhasil menguat 1% usai terjun bebas di sesi sebelumnya, dipicu oleh kekhawatiran bahwa pasokan Timur Tengah masih dalam risiko karena resolusi diplomatik terhadap perang AS-Iran.

Selasa (4/8/2026) pukul 14.00 WIB, harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik US$ 1,02 atau 1,2% menjadi US$ 84,79 per barel setelah ambles 7% di sesi sebelumnya ke level terendah tiga minggu.

Baca Juga: Toyota Kerek Proyeksi Laba Operasional Tahunan dan Bakal Gelar Buyback Saham

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 naik 46 sen atau 0,6% ke US$ 80,80 per barel setelah turun lebih dari 5% pada sesi sebelumnya ke level terendah dalam hampir seminggu.

Harga minyak turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu (2/8/2026) bahwa ia menunda serangan baru terhadap Iran sambil menunggu pembicaraan yang sedang berlangsung untuk mengakhiri perang mereka dan menyelesaikan klaim atas kendali utama Selat Hormuz.

Jalur perairan strategis ini, yang menghubungkan produsen minyak Teluk dengan pasar global, merupakan saluran bagi sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam global sebelum konflik.

Namun, pada hari Senin (3/8/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menolak klaim Trump, dengan mengatakan tidak ada negosiasi dengan AS yang dilakukan dan tidak ada pertemuan yang dijadwalkan.

"Skala aksi jual nampaknya cukup berlebihan, mengingat masih ada ketidakpastian yang cukup besar. Kami telah berada dalam situasi ini beberapa kali sebelumnya, hanya untuk melihat segalanya terurai," kata analis ING dalam sebuah catatan.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Ditutup Menguat, Ditopang Kenaikan Saham Chip

“Dan dengan Iran yang menyangkal bahwa ada perundingan yang sedang berlangsung dan Trump mengeluarkan peringatan jika tidak ada kesepakatan yang terwujud, hal ini jelas memberikan ruang yang luas untuk eskalasi baru.”




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×