Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global mengalami penurunan tajam lebih dari 8%, sempat menembus level US$5.000 per ounce, seiring penguatan dolar menjelang pengumuman Federal Reserve AS oleh Presiden Donald Trump pada Jumat (GMT).
Meski demikian, emas tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 1982.
Logam mulia lainnya juga tercatat turun signifikan akibat aksi ambil untung oleh para investor. Spot gold tercatat turun 5,7% menjadi US$5.087,99 per ounce pada pukul 12:57 GMT, setelah sebelumnya menyentuh level terendah US$4.957,54 di sesi yang sama.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari turun 4,6% ke level US$5.081,70.
Baca Juga: Harga Emas, Perak, dan Tembaga Anjlok Usai Sentuh Rekor Tertinggi
Rania Gule, analis pasar senior di XS.com, menilai penurunan ini sebagai koreksi yang kuat dan aksi ambil untung setelah reli cepat emas, yang mendorong banyak investor dan institusi untuk menilai kembali posisi mereka serta mengurangi eksposur risiko.
Emas sempat mencatat rekor tertinggi US$5.594,82 pada Kamis (29/1), dan tetap berada di jalur untuk kenaikan lebih dari 17% sepanjang bulan ini, menuju kenaikan bulanan keenam berturut-turut.
Penguatan dolar terjadi setelah Presiden Trump memilih mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh yang dianggap cenderung hawkish untuk memimpin bank sentral AS menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei.
Penguatan dolar membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Baca Juga: Harga Emas Sempat Jebol US$5.000, Spekulasi Ketua The Fed Picu Koreksi Tajam
Di India, premi emas fisik meningkat ke level tertinggi lebih dari satu dekade akibat permintaan investasi yang kuat menjelang kemungkinan kenaikan bea masuk. Sementara itu, premi emas di China juga naik seiring meningkatnya permintaan investasi dan perhiasan.
Ross Norman, analis independen, memperkirakan, “Kami melihat harga emas bisa turun lebih jauh dari level saat ini, namun akan kembali pulih dengan rata-rata US$5.375 untuk tahun 2026, mencapai puncak US$6.400 pada kuartal keempat.”
Selain emas, logam mulia lain juga mengalami koreksi. Spot perak turun 14,1% menjadi US$99,79 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh US$95,79, meski sempat mencatat rekor tertinggi US$121,64 pada Kamis.
Perak telah naik 42% sepanjang bulan ini, menuju kinerja bulanan terbaiknya. Norman menambahkan, “Meskipun sebagian besar kenaikan perak didukung oleh fundamental yang solid, terdapat kelebihan spekulatif yang kini mulai dikoreksi.”
Spot platinum kehilangan 12,6% menjadi US$2.298,76 per ounce setelah mencapai rekor tertinggi US$2.918,80 pada Senin (27/1). Sementara itu, palladium turun 9,3% menjadi US$1.819,75 per ounce.
Selanjutnya: Pabrik Stellantis di Italia Bangkit, Siap Genjot Produksi dan Rekrut Ratusan
Menarik Dibaca: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global
- Investasi Emas
- Logam Mulia
- Federal Reserve
- harga perak
- Donald Trump
- harga platinum
- gold price
- Dolar AS
- Harga emas hari ini
- emas berjangka
- harga emas global
- Spot Gold
- Pasar Komoditas
- Kevin Warsh
- strategi investasi emas
- Harga Palladium
- analisis pasar emas
- Aksi ambil untung emas
- koreksi harga emas
- prospek harga emas 2026
- kenaikan bulanan emas













