Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Jumat (9/10/2026), ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meredanya harga minyak mentah.
Namun, pelaku pasar masih mencermati risiko inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot naik 1,1% menjadi US$ 4.177,44 per ons troi pada pukul 03.53 GMT. Kenaikan ini terjadi setelah harga emas menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu (7/10/2026).
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 1,1% menjadi US$ 4.202 per ons troi.
Baca Juga: AS Sita Tujuh Domain Internet untuk Ganggu Infrastruktur Peretas China
Penguatan emas ditopang oleh meredanya reli dolar AS sehingga logam mulia yang dihargai dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya. Selain itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun untuk hari kedua berturut-turut.
Harga minyak mentah juga melemah setelah kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah sedikit mereda.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November, di tengah pembicaraan untuk mengakhiri perang.
Chief Executive Officer Critical Metals Tony Sage mengatakan, potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih dapat membatasi pergerakan harga emas.
Menurut dia, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS berikutnya untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter, terutama menjelang pertemuan The Fed pada Oktober.
Baca Juga: Rusia Genjot Pengiriman Gandum via Baltik, Pasokan ke Indonesia Berpotensi Terkendala
“Data atau panduan yang lebih lunak dapat mendorong yield turun dan mendukung harga emas,” kata Sage.
Bulan lalu, bank sentral AS secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem juga menyatakan bahwa The Fed perlu kembali menaikkan suku bunga untuk mengembalikan inflasi ke target 2%. Namun, ia tidak menyebutkan keputusan yang seharusnya diambil dalam pertemuan kebijakan bulan ini.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sebesar 17%, sedangkan peluang kenaikan pada Desember mencapai 83%.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Baca Juga: Kabut Asap dari Indonesia, Malaysia Tutup Sekolah di Sejumlah Wilayah
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,4% menjadi US$ 60,16 per ons troi. Platinum menguat 2,6% ke US$ 1.676,67 per ons troi, sedangkan paladium naik 2,8% menjadi US$ 1.154,70 per ons troi. Meski menguat pada perdagangan harian, ketiga logam tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan.













