Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali bergerak menguat pada perdagangan Kamis (10/9/2026), didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Investor kini menanti rilis data inflasi AS yang berpotensi menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,3% menjadi US$4.412,84 per ons pada pukul 02.34 GMT (09:34 WIB). Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 0,1% menjadi US$4.457,10 per ons.
Analis Marex Edward Meir mengatakan, perkembangan geopolitik di kawasan Teluk Persia untuk sementara belum menjadi faktor utama yang menggerakkan harga emas.
"Untuk saat ini, perkembangan geopolitik di Teluk Persia merupakan faktor sekunder bagi emas. Emas justru memanfaatkan pelemahan dolar, yang secara khusus tidak menguat meskipun suku bunga AS bergerak lebih tinggi," ujar Meir.
Dolar AS masih berada dalam tekanan, sehingga membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.
Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Baca Juga: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas Kedua dalam Sejarah, Ilmuwan Ungkap Faktanya
Data indeks harga produsen atau producer price index (PPI) AS dijadwalkan dirilis pada Kamis pukul 12.30 GMT (7:30 WIB). Sementara itu, data inflasi konsumen AS akan dirilis pada Jumat.
Data inflasi tersebut menjadi penting karena pasar tengah mencermati kemungkinan perubahan suku bunga The Fed dalam pertemuan kebijakan pada 15-16 September.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap mayoritas ekonom, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September dan sepanjang sisa tahun ini. Proyeksi tersebut kembali berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya serangkaian kenaikan suku bunga.
Sementara itu, CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan ini mencapai 60%.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbasis bunga.
Tekanan Fiskal AS Jadi Penopang Emas
Selain faktor dolar dan kebijakan moneter, tekanan fiskal AS juga menjadi salah satu faktor yang mendukung harga emas.
Daniel Hynes, senior commodities strategist di ANZ, mengatakan emas mendapat dukungan karena tekanan fiskal AS terus mengikis kepercayaan terhadap nilai jangka panjang surat utang pemerintah dan mata uang yang digunakan untuk membiayainya.
"Emas mendapat dukungan karena tekanan fiskal AS terus melemahkan kepercayaan terhadap nilai jangka panjang utang pemerintah dan mata uang yang digunakan untuk membiayainya," kata Hynes dalam sebuah catatan.
Total utang AS bahkan telah menembus US$40 triliun untuk pertama kalinya pada bulan lalu. Kondisi tersebut kembali memunculkan peringatan mengenai potensi berkembangnya krisis fiskal di AS.
Baca Juga: Setelah Kalahkan Bolt, Robot Asal China Itu Bersiap Masuk Dunia Kerja Nyata
Ketegangan Iran-AS Jadi Perhatian
Di sisi geopolitik, ketegangan antara Iran dan AS juga masih menjadi perhatian pasar.
Iran pada Rabu (9/9/2026) mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Aksi tersebut menjadi gelombang serangan terbesar terhadap pelayaran oleh kedua pihak sejak perang yang telah berlangsung selama enam bulan dimulai.
Meski demikian, menurut Marex, perkembangan geopolitik di kawasan Teluk Persia saat ini belum menjadi faktor dominan bagi pergerakan emas dibandingkan pelemahan dolar.
Harga Perak, Platinum dan Palladium
Pergerakan positif juga terlihat pada sebagian logam mulia lainnya.
Harga perak spot naik 0,2% menjadi US$67,42 per ons. Sebaliknya, platinum turun 0,6% menjadi US$1.885,02 per ons.
Sementara itu, harga palladium menguat 0,2% menjadi US$1.355,50 per ons.













