Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (9/7/2026), didorong aksi beli saat harga murah (bargain hunting) setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah dalam sepekan.
Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi arah pasar.
Baca Juga: Mbappe Bawa Prancis Singkirkan Maroko 2-0, Les Bleus Melaju ke Semifinal Piala Dunia
Harga emas spot naik 1,3% menjadi US$ 4.130,58 per ons troi pada pukul 14.05 EDT (18.05 GMT), setelah sehari sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak 1 Juli.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup naik 1,4% ke US$ 4.140,80 per ons troi.
"Ada aksi bargain hunting setelah penurunan harga kemarin. Dalam jangka pendek, penggerak utama harga emas tetap kebijakan Federal Reserve (The Fed)," ujar Bob Haberkorn, Senior Market Strategist StoneX.
Menurut Haberkorn, apabila The Fed mengambil sikap yang lebih dovish terhadap suku bunga, harga emas dan perak berpotensi melanjutkan kenaikan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Anjlok 2% Kamis (9/7), di Tengah Kekhawatiran Inflasi
Sebaliknya, jika bank sentral kembali memberi sinyal perlunya kenaikan suku bunga, kedua logam mulia tersebut kemungkinan akan berada di bawah tekanan.
Dari sisi geopolitik, ketegangan kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Peristiwa tersebut memperburuk gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan.
Konflik tersebut juga memicu kekhawatiran kenaikan harga energi yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong bank-bank sentral untuk menaikkan suku bunga.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil.
Baca Juga: IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 62% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Sementara itu, risalah rapat Federal Reserve pada Juni menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral terhadap inflasi.
Sejumlah pembuat kebijakan bahkan menilai terdapat alasan yang cukup untuk menaikkan suku bunga sebelum akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.
Investor kini menantikan data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
Di sisi lain, HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027. Bank tersebut kini memperkirakan harga emas rata-rata mencapai US$ 4.560 per ons troi pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya US$ 4.864.
Baca Juga: Turki dan Irak Segera Teken Perjanjian Baru Saluran Pipa Minyak
Untuk 2027, proyeksi diturunkan menjadi US$ 4.925 per ons troi dari sebelumnya US$ 5.000.
Adapun logam mulia lainnya juga ditutup menguat. Harga perak spot naik 3,4% menjadi US$ 60,25 per ons troi, platinum menguat 2,3% menjadi US$ 1.615,25 per ons troi, sedangkan paladium naik 3,3% ke US$ 1.253,25 per ons troi.














