kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Harga Minyak Dunia Ditutup Anjlok 2% Kamis (9/7), di Tengah Kekhawatiran Inflasi


Jumat, 10 Juli 2026 / 05:27 WIB
Harga Minyak Dunia Ditutup Anjlok 2% Kamis (9/7), di Tengah Kekhawatiran Inflasi
ILUSTRASI. GLOBAL-OIL/EXPORTS (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (9/7/2026).

Kekhawatiran bahwa inflasi yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi akan menekan permintaan energi mengalahkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 1,92 atau 2,5% menjadi US$ 76,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$ 1,61 atau 2,2% menjadi US$ 71,91 per barel.

Sehari sebelumnya, Brent ditutup pada level tertinggi sejak 19 Juni, sedangkan WTI mencapai level penutupan tertinggi sejak 22 Juni.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk pada Kamis (9/7).

Serangan tersebut merupakan balasan atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran sehari sebelumnya, sekaligus memperburuk gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga pekan.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat, Saham Chip Redam Kekhawatiran Konflik AS-Iran

Serangan itu terjadi bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad. Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Meski demikian, analis menilai eskalasi konflik kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

"Kami memperkirakan ketegangan baru di Timur Tengah antara AS dan Iran akan relatif singkat karena kedua negara sama-sama dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik," kata Vikas Dwivedi, Global Energy Strategist Macquarie Group.

Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan AS serta intervensi terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah menghambat proses pembukaan kembali jalur tersebut.

Baca Juga: Bandara Palm Beach Resmi Berganti Nama Menjadi Donald J. Trump

Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz.

Analis Goldman Sachs memperkirakan arus pengiriman minyak dari Teluk Persia sempat pulih hingga lebih dari 80% dibandingkan kondisi sebelum perang dalam 10 hari pertama setelah Selat Hormuz kembali dibuka.

Namun, setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker, arus tersebut kembali turun ke kisaran lebih dari 70% dari kondisi normal.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan jumlah klaim baru tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu.

Kondisi ini mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup stabil meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat pada Juni.

Risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni juga menunjukkan para pejabat bank sentral semakin mencemaskan tekanan inflasi.

Baca Juga: El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global

Mereka secara umum memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja tetap stabil dalam waktu dekat dengan tingkat pengangguran yang tidak jauh berbeda dari posisi saat ini.

Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan dirinya tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan berlangsung lama meski konflik di Timur Tengah kembali memanas. Namun, ia belum memberikan sinyal mengenai keputusan suku bunga pada pertemuan The Fed akhir bulan ini.

Kenaikan suku bunga oleh The Fed untuk menekan inflasi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi sehingga dapat mengurangi permintaan minyak.

Dari Asia, tekanan juga datang dari China. Inflasi harga produsen (producer price inflation) pada Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Kondisi ini semakin menekan margin keuntungan sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan domestik.

Selain itu, China dan Taiwan bersiap menghadapi Topan Bavi yang diperkirakan menjadi salah satu badai paling merusak dalam beberapa tahun terakhir.

Badai tersebut membawa kecepatan angin hingga hampir 200 kilometer per jam, sementara sebagian wilayah China masih dalam tahap pemulihan setelah diterjang Topan Maysak.

Di Eropa, militer Ukraina menyatakan drone mereka menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov pada Kamis.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Tunggu Kepastian Perdamaian AS dan Iran

Serangan itu merupakan bagian dari upaya mengganggu pasokan bahan bakar bagi pasukan Rusia dan mengisolasi wilayah Krimea yang diduduki Moskow.

Sebelumnya, kontrak berjangka diesel AS melonjak tajam setelah Rusia mengumumkan larangan ekspor diesel, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Di sisi lain, prospek tercapainya penyelesaian perang Ukraina juga menjadi perhatian pasar. Jika konflik berakhir dan sebagian sanksi terhadap Rusia dicabut, Moskow berpotensi meningkatkan ekspor minyaknya ke pasar global.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi pada 2025.

Sementara itu, Komisi Eropa tengah menyiapkan serangkaian kebijakan dan skema pendanaan untuk mempercepat transisi penggunaan listrik menggantikan minyak dan gas di kawasan Uni Eropa.

Jika berhasil diterapkan, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan permintaan minyak di Eropa dalam jangka panjang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×