kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global


Kamis, 09 Juli 2026 / 21:10 WIB
Diperbarui Kamis, 09 Juli 2026 / 21:12 WIB
El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global
ILUSTRASI. Peluang terjadinya El Nino di Indonesia menguat (ANTARA/ARNAS PADDA)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino diperkirakan akan semakin menguat hingga akhir 2026 dan berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan terhadap produksi pertanian, mulai dari kekeringan hingga banjir, yang dapat memengaruhi pasokan pangan global.

Pusat Prediksi Iklim Amerika Serikat (U.S. Climate Prediction Center/CPC) pada Kamis (9/7/2026) menyatakan El Nino memiliki peluang 97% untuk bertahan hingga awal musim semi 2027.

Bahkan, terdapat peluang 81% bahwa El Nino akan mencapai kategori sangat kuat pada periode Oktober–Desember 2026, sehingga berpotensi menjadi salah satu kejadian terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950.

Baca Juga: El Nino Ancam Produksi Pangan Asia, Harga Beras dan Gandum Berpotensi Naik

El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi ketika angin pasat melemah sehingga air laut hangat menumpuk di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator.

Kondisi tersebut umumnya memicu kenaikan suhu global dan mengubah pola cuaca, menyebabkan kekeringan di sebagian wilayah dan hujan lebat di wilayah lainnya.

Dampak El Nino terhadap sektor pertanian diperkirakan berbeda di setiap kawasan.

Di Amerika Serikat, kondisi yang lebih sejuk dan basah pada akhir musim panas dipandang menguntungkan bagi tanaman jagung dan kedelai karena terjadi pada fase pertumbuhan yang membutuhkan banyak kelembapan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan hasil panen kedua komoditas tersebut.

Sebaliknya, India diperkirakan menghadapi risiko penurunan produksi pertanian akibat musim hujan yang lebih lemah.

Curah hujan monsun saat ini tercatat sekitar 40% di bawah rata-rata jangka panjang, sementara wilayah barat dan selatan India diperkirakan masih akan menerima curah hujan di bawah normal dalam dua pekan ke depan. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat penanaman kapas, kedelai, dan jagung.

"El Nino biasanya menyebabkan musim monsun di India menjadi lebih lemah. Dengan curah hujan yang saat ini sekitar 40% di bawah rata-rata jangka panjang, dampak negatif terhadap tanaman musim panas kemungkinan besar akan terjadi," kata Ahli Meteorologi Pertanian Vaisala Weather, Donald Keeney.

Baca Juga: El Nino Kembali Ancam Inflasi Asia

Sementara itu, China juga bersiap menghadapi potensi cuaca ekstrem. Berdasarkan proyeksi Pusat Iklim Nasional China yang dikutip kantor berita Xinhua, El Nino tipe Pasifik Timur yang kuat hingga sangat kuat diperkirakan berkembang pada musim panas dan musim gugur tahun ini, sehingga meningkatkan risiko banjir dan gelombang panas sepanjang 2026 hingga tahun depan.

Sebelumnya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga telah meningkatkan proyeksinya terhadap kemunculan El Nino yang kuat dalam beberapa bulan mendatang.

Badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi mendorong kenaikan suhu global sekaligus memperbesar risiko cuaca ekstrem di berbagai negara.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×