Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - FIFA membuka proses disipliner terhadap dua pemain dan seorang asisten pelatih Argentina menyusul kericuhan yang terjadi setelah final Piala Dunia 2026.
Dalam pernyataan pada Senin (27/7), FIFA menyebut gelandang Leandro Paredes menghadapi tiga tuduhan penyerangan.
Bek Nahuel Molina didakwa atas dugaan penyerangan dan tindakan tidak sportif, sementara asisten pelatih Roberto Ayala menghadapi satu tuduhan penyerangan.
Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Kamis (30/7), Dolar Taiwan dan Baht Pimpin Pelemahan
Insiden tersebut terjadi setelah laga final Piala Dunia pada 19 Juli di East Rutherford, New Jersey, ketika Spain national football team mengalahkan Argentina national football team dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu.
Setelah peluit akhir dibunyikan, Molina terlihat memukul gelandang Spanyol Rodri di bagian perut.
Sementara itu, Paredes memegang leher bek Spanyol Eric García sebelum mendorongnya hingga terjatuh.
Ayala juga disebut memegang leher pemain Spanyol Dani Olmo. Beberapa hari kemudian, Ayala menyampaikan permintaan maaf namun mengaku tindakannya dipicu oleh ucapan Olmo.
Baca Juga: Ketegangan Dagang Memanas, China Ancam Balas Larangan Robot dari AS
Olmo menolak permintaan maaf tersebut dan membantah pernah melontarkan komentar yang dimaksud.
FIFA menyatakan seluruh pihak yang diduga melanggar kini telah diberi kesempatan menyampaikan pembelaan sesuai dengan Kode Disiplin FIFA.
Setelah itu, Komite Disiplin FIFA akan mengambil keputusan.
Selain itu, gelandang Argentina Thiago Almada dan gelandang Spanyol Gavi juga dikenai tuduhan yang lebih ringan atas perilaku tidak sportif.
Tidak hanya individu, FIFA juga melayangkan dakwaan kepada Argentine Football Association atas dugaan pelanggaran regulasi dalam beberapa pertandingan selama turnamen.
Tuduhan tersebut berkaitan dengan nyanyian dan pesan bernuansa politik, terutama saat semifinal melawan Inggris.
Baca Juga: Laporan Keuangan Meta: Free Cash Flow Ambles 91% Akibat Belanja AI
Setelah kemenangan Argentina 2-1 atas Inggris pada 15 Juli di Atlanta, para pemain membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina".
FIFA juga menuduh federasi sepak bola Argentina melanggar aturan terkait nyanyian dan gestur diskriminatif, keterlambatan kick-off, kegagalan mematuhi protokol pertandingan dan keamanan, pemasangan pesan yang tidak pantas oleh tim maupun penonton, serta pelemparan benda ke lapangan oleh suporter.














