Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - MANILA. Kawasan Asia menghadapi ancaman baru terhadap inflasi di tengah belum meredanya gejolak harga energi global. Kali ini, sumber tekanan datang dari potensi fenomena El Nino.
Badai El Nino kali ini diperkirakan membawa cuaca lebih panas dan musim kering berkepanjangan di banyak negara Asia. Kondisi ini berisiko mendorong lonjakan harga pangan di paruh kedua 2026.
Situasi ini menjadi tantangan baru bagi bank sentral di kawasan Asia, yang sebelumnya mulai melihat peluang pelonggaran kebijakan moneter. Jika harga pangan kembali melonjak, ruang penurunan suku bunga berpotensi semakin sempit.
Melansir Bloomberg, Jumat (8/5), data terbaru menunjukkan inflasi di banyak negara Asia sudah bergerak naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Filipina mencatat inflasi di atas 7%, sementara inflasi di Pakistan menembus 11%. Kenaikan tersebut terutama dipicu naiknya biaya transportasi, logistik, dan utilitas yang masih tinggi.
Ekonom Oxford Economics Adam Ahmad Samdin memprediksi, tekanan harga pangan di Asia masih akan berlanjut tahun depan. Menurut dia, kombinasi risiko geopolitik, gangguan pasar pupuk, dan ketidakpastian iklim, membuat ancaman inflasi pangan tetap tinggi dalam beberapa kuartal mendatang.
Artinya, tekanan inflasi kali ini bukan semata akibat cuaca. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga pupuk dan energi ikut memperbesar risiko kenaikan biaya produksi pangan.
Hingga semester II
Bank of America dalam risetnya juga menyebut, bila kondisi cuaca memburuk sesuai proyeksi, tekanan inflasi di Asia Tenggara akan lebih terasa pada paruh kedua tahun ini. Efek kenaikan harga pupuk umumnya baru mengalir ke harga pangan setelah beberapa bulan.
Asian Development Bank (ADB) bahkan menaikkan proyeksi inflasi kawasan Asia tahun ini menjadi 5,2% dari sebelumnya 3,6%. Sementara Dana Moneter Internasional atawa International Monetary Fund (IMF) memperkirakan inflasi global tahun depan bisa lebih tinggi hingga 4 poin persentase.
Filipina menjadi salah satu negara yang paling rentan. Penyebabnya, negara ini sangat bergantung pada impor pangan dan bahan bakar.
Sudah begitu, inflasi yang tinggi datang bersamaan dengan lemahnya konsumsi rumah tangga. Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi melambat ke titik terendah lebih dari satu dekade di luar masa pandemi.
Bank sentral Filipina atawa Bangko Sentral ng Pilipinas menyatakan siap bertindak. Namun, sejumlah ekonom menilai Filipina berpotensi membutuhkan kenaikan suku bunga agresif di luar jadwal, jika inflasi terus meningkat, meski berisiko menekan ekonomi domestik.
Indonesia juga tidak sepenuhnya aman. Meski pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, musim kering yang lebih panjang berpotensi menekan produksi pangan dan memperlambat aktivitas ekonomi di semester kedua.
Di India, ancaman datang dari kemungkinan monsun yang lebih lemah. Curah hujan musiman sangat menentukan produksi pertanian negara tersebut. Jika terganggu, hasil panen berpotensi turun dan harga pangan naik. Citigroup bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India menjadi 6,6% untuk 2027, dari sebelumnya 7,1%.
Sementara itu, Jepang dan Korea Selatan juga mulai menghadapi tekanan harga yang berlangsung terus-menerus. Di Jepang, harga beras masih naik 6,8% pada Maret. Kondisi ini dinilai bisa mendorong Bank of Japan menaikkan suku bunga lebih cepat.
Risiko terbesar bagi Asia saat ini adalah inflasi yang datang bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan. Jika kondisi tersebut terjadi, bank sentral menghadapi dilema klasik, yakni menaikkan suku bunga untuk menahan harga, atau menjaga ekonomi tetap tumbuh.
Dengan kata lain, El Nino berpotensi menjadi ujian baru bagi ekonomi Asia ketika kawasan ini belum sepenuhnya pulih dari tekanan energi dan ketidakpastian global. n












