Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Kamis (30/7/2026) setelah sebelumnya melonjak tajam.
Pelemahan terjadi karena kapal-kapal tanker minyak masih terus beroperasi keluar dari kawasan Timur Tengah meskipun konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meluas.
Baca Juga: Federasi Dunia Kompak Respons Rencana FIFA, Ada yang Mendukung
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 79 sen atau 0,9% menjadi US$87,30 per barel pada pukul 00.15 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 76 sen atau 0,9% ke level US$83,70 per barel.
Sehari sebelumnya, Brent ditutup melonjak 7,91%, sedangkan WTI menguat 6,56%. Kenaikan tersebut menjadi salah satu lonjakan harian terbesar selama konflik AS-Iran, sekaligus membalikkan penurunan sekitar 5% pada Selasa (28/7), ketika sempat muncul jeda dalam aksi permusuhan.
Data awal pelayaran menunjukkan sebanyak 39 kapal komoditas melintasi Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah pada Selasa. Jumlah itu menjadi yang tertinggi sejak 19 Juli. Sebaliknya, hanya sedikit kapal yang melintas melalui Selat Hormuz.
Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, meski volume pengiriman masih lebih rendah dari normal, minyak tetap dapat keluar dari kawasan melalui berbagai jalur alternatif.
Baca Juga: FIFA Tawarkan Rp723 Miliar untuk Federasi Pendukung Rencana Infantino
"Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar kemungkinan jalur dan metode alternatif tersebut mengurangi pengaruh Iran atas Selat Hormuz," ujar Sycamore dalam catatannya.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur tersebut.
Namun, sejak perang AS-Iran dimulai pada Februari, lalu lintas pelayaran di kawasan itu sebagian besar terhambat meskipun berbagai upaya diplomatik terus dilakukan.
Pada Rabu (29/7), seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz secara regional.
Di sisi lain, eskalasi konflik kembali meningkat setelah AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak.
Serangan itu merupakan pertama kalinya Arab Saudi secara terbuka bergabung dalam operasi udara bersama AS sebagai balasan atas serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Saudi yang diluncurkan dari Irak.
Baca Juga: Seperti KDMP, New York Buka Supermarket Milik Pemerintah, Harga Pangan Diskon 30%
Serangan tersebut juga menandai dimulainya kembali operasi militer AS di Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu menghentikan sementara kampanye pengeboman karena menipisnya persediaan amunisi.
Iran juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania serta menghantam tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang disebut tidak sah.
Sementara itu, sejumlah sumber menyebut Arab Saudi tengah berupaya membentuk koalisi untuk melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dari serangan kelompok Houthi.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah pada 20 Juli.
Langkah itu memperluas serangan terhadap kapal tanker dan membuka front baru dalam konflik Iran, sekaligus mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang merupakan jalur pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.














