kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.923   11,00   0,06%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Harga Minyak Dunia Naik 1% Rabu (30/9), Brent Cetak Kenaikan 14% pada September


Kamis, 01 Oktober 2026 / 05:19 WIB
Harga Minyak Dunia Naik 1% Rabu (30/9), Brent Cetak Kenaikan 14% pada September
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah kembali menguat sekitar US$1 per barel pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Kenaikan dipicu kebuntuan pembicaraan damai Amerika Serikat (AS)-Iran dan mengetatnya pasar bahan bakar minyak (BBM) AS.

Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November yang berakhir pada Rabu naik 91 sen atau 0,9% menjadi US$103,50 per barel. Sementara kontrak Brent untuk pengiriman Desember yang lebih aktif naik US$1,87 atau 1,9% menjadi US$98,03 per barel.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat US$1,04 atau 1,2% menjadi US$90,42 per barel.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 6,6% pada September, Tekanan Harga Energi Jadi Beban

Dengan penguatan tersebut, harga Brent mencatat kenaikan sekitar 14% sepanjang September, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli. Sementara harga WTI naik sekitar 5% sepanjang bulan ini.

Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran. Qatar pada Selasa mengatakan berharap diplomasi antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan.

Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang menyebut dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi serta mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.

Di sisi pasokan, Arab Saudi telah kembali melakukan pemuatan tanker minyak dari pelabuhan Laut Merah Yanbu setelah mengaktifkan kembali jalur pipa East-West.

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari (bph) dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata 2025. Bank tersebut menyebut ekspor minyak kawasan Teluk meningkat dua kali lipat pada September.

JPMorgan memperkirakan, rata-rata ekspor minyak selama 10 hari terakhir mencapai 20,5 juta bph dalam lima hari terakhir. Angka tersebut setara 89% dari level 2025.

Baca Juga: Ditopang Sektor Riil, Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal II Direvisi Naik Jadi 2,2%

Pasar BBM AS Mengetat

Di sisi lain, pasar produk BBM AS menunjukkan kondisi yang semakin ketat. Persediaan bensin AS turun 1,7 juta barel menjadi 204,4 juta barel pada pekan lalu.

Persediaan distilat, yang mencakup diesel dan minyak pemanas, juga turun 2,3 juta barel menjadi 105,2 juta barel, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).

"Penurunan aktivitas penyulingan mendorong berkurangnya persediaan distilat dan bensin. Aktivitas penyulingan diperkirakan secara bertahap meningkat sehingga dapat membantu mencegah persediaan produk turun ke level yang semakin rendah," kata Matt Smith, analis Kpler.

John Kilduff, partner Again Capital di New York, mengatakan tingginya permintaan distilat secara global membuat konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Barang AS Melonjak ke US$ 132,6 Miliar

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS justru meningkat 922.000 barel menjadi 427,3 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan 264.000 barel.

Perbedaan harga antara Brent dan WTI juga melebar ke level tertinggi dalam empat bulan. Investor mencermati kemungkinan AS membatasi ekspor diesel yang berpotensi menciptakan kelebihan pasokan di pasar domestik dan membuat kilang AS mengurangi pemrosesan minyak mentah.

Trump mempertimbangkan opsi mengizinkan penjualan diesel berwarna merah sebagai alternatif larangan ekspor.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan tekanan harga yang lebih rendah bagi konsumen menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.

OPEC+ Diperkirakan Pertahankan Target Produksi

Dari sisi produksi, negara-negara anggota OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk November ketika kelompok tersebut menggelar pertemuan pada Minggu.

Analis MUFG menilai pemulihan arus minyak mentah dapat meredam tekanan kenaikan harga yang berasal dari sisi pasokan.

Baca Juga: Inflasi AS di Bawah Ramalan, Pasar Mulai Ragu The Fed Naikkan Suku Bunga Lagi

Namun, kekurangan produk BBM dan tingginya biaya pengangkutan diperkirakan membuat pasar energi secara keseluruhan tetap ketat.

Pergerakan harga minyak juga mendapat dukungan dari data ekonomi AS. Data Departemen Perdagangan menunjukkan inflasi AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Agustus.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi urgensi Federal Reserve atau The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×